Jtv di Palapa-D

KETIKA saya melakukan blind scan pada satelit Palapa-D, olala.. saya temukan transponder baru pada 3946 V 7400. Biasa memang, beberapa waktu terakhir sering muncul channel baru di satelit Palapa. Tetapi, seperti bunyi syair sebuah lagu, kadang siaran itu datang dan pergi sesuka hati.

Yang termasuk sudah agak lama melakukan test signal pada Palapa adalah N3WS (3575 V 6363) dan entah kapan ia akan bersiaran secara sungguhan.

Kembali kepada Jtv, stasiun telivisi milik Jawa Pos Grup ini secara terrestrial memang hanya menjangkau wilayah Jawa Timur. Namun demikian, ia juga bisa disaksikan secara lebih luas menggunakan sistem satelit. Dan yang untuk FTA, sudah lama ia memakai satelit Telkom-1 (4096 H 3125). Nah, apakah setelah sekian lama menyewa transponder Telkom si Jtv juga akan mengudara lewat Palapa?

Belum jelas betul.
Pertama secara nama agak berbeda. Yang di Telkom memakai ‘Jtv Suroboyo Rek’, sedang pada Palapa hanya tertulis ‘JTV’ saja.

Pertanyaan itu sebenarnya gampang ditemukan jawabannya seandainya Jtv yang di Palapa keluar gambarnya. Lha ini masih gelap kok. Iya sih, sinyal memang cuma mentok di angka 37%, tetapi RCTI yang pada reciever saya SQ-nya juga segitu sudah cling tuh.

Tetapi kalau dipikir-pikir, untuk apa, coba, Jtv bersiaran di dua satelit berbeda tetapi beam-nya relatif sama. Rasanya kok kurang maksimal ya?

Ditunggu saja: apakah Jtv yang di Palapa itu beda sama sekali dengan Jtv yang di Telkom. Atau hanya sebagai persiapan Jtv ‘pindah rumah’ ke Palapa untuk kemudian transponder yang di Telkom tidak diperpanjang lagi sewanya. *****

DTV Surabaya yang Masih Mengudara

SUDAH berapa lama Anda mengistirahatkan set top box DVB-T2? Jangan keburu dikeluarkan lagi, untuk dipakai scan lagi. Ya, dugaan Anda benar: televisi yang masih bertahan mengudara hanya itu-itu saja
–yang nota bene masih bisa dinikmati secara baik-baik saja di jalur analog.

Eh, enggak ding. Masih ada kelebihannya dibanding kanal analog. Ada MUX TVRI yang mengusung TVRI Jatim2, TVRI3 dan TVRI4. Yang TVRI HD? Haddeww, itu HD abal-abal, kata seorang teman blogger.

Dan inilah hasil scan yang saya lakukan barusan dengan menggunakan ‘altem’ STB Getmecom HD-9 + antena Titis T-1000, kabel coaxial Belden RG6:

-MetroTV
-BBSTV
-TransTV
-Trans|7
-KompasTV
-TVRI Nasional
-TVRI HD
-TVRI3
-TVRI4
-TVRI Jatim1
-TVRI Jatim2

Sementara MUX MNC, Emtek dan Viva masih belum muncul lagi batang sinyalnya.

Satu lagi, walau mengudara, beberapa yang saya sebut di atas tadi (dengan gambar yang kadang tiba-tiba mandeg) mengindikasikan bahwa power yang digunakan juga tak teramat besar. Nah, kalau saya yang memantau dari dalam kota Surabaya saja (jarak rumah saya ke menara pemancar tak lebih dari 20 km) mendapati kenyataan yang demikian, bagaimana sinyal digital itu tertangkap di wilayah yang jauh dari menara pemancar ya? *****

TV Digital Batal?

BANYAK sekali komentar yang masuk pada artikel saya tentang kepekaan set top box di blog Kedai Kang Edi. Komentar itu bahkan ada yang muncul hari-hari ini, disaat siaran televisi digital sedang belum menemukan langkah pastinya. Wah, jangan tanya saya tentang sisi hukum atau teknisnya. Tetapi melihat realita bahwa MUX yang tadinya bersiaran sekarang satu per satu bertiarap adalah indikasi kurang jelasnya nasib program yang digagas bertahun silam ini.

Bila nasib siaran terus begini, nasib STB yang kadung dibeli juga menjadi terkatung. Untunglah, walau channel tak jua bertambah dan malah berkurang, dengan adanya port USB pada set top box, masihlah ia bisa dipakai untuk memutar musik dan sebangsanya.

Yang juga jangan sampai menyesal adalah, orang yang membaca di situs online dan tertarik membeli set top box hanya karena sudah bosan menonton televisi dengan gambar bersemut. Padahal, tv bersemut bisa jadi dikarenakan jarak yang terlalu jauh dari titik pemancar. Nah, dengan asumsi pemancar digital juga ditempel pada tower yang sama, plus power (bagi yang masih mengudara) yang dipakai juga tak besar-besar amat, set top box DVB-T2 pun tak mampu menangkap sinyal digital. Ini perlu dipahami bagi orang yang belum punya STB dan sudah berhasrat besar untuk membeli.

Dulu ada baliho besar bergambar Pak Tifatul Sembiring (Menkominfo kala itu) untuk menyosialisasikan program migrasi siaran televisi dari analog ke digital. Sekarang tidak ada lagi. Bahkan grup-grup tv digital di media sosial cenderung sepi. Nah, setelah program migrasi ini terganjal, apakah akan meningkat statusnya menjadi batal?

Semoga jangan.

Harapan ini bukan hanya agar orang yang sudah kadung membeli set top box tidak merugi. (Karena kalau dikalkulasi, bila program ini nanti benar batal, yang menanggung rugi segunung adalah pemilik MUX yang sudah kadung menanam investasi dengan nilai yang sangat tinggi untuk menyediakan insfrastruktur siaran digital). Tetapi, lebih dari itu, kita jangan (selalu tertinggal) dengan negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan digitalisasi siaran televisi dan meninggalkan sistem analog yang sudah diangap sebagai teknologi ‘kuno’ yang ketinggalan zaman.

Bagaimana pendapat Anda?*****

Dag Dig Dut(g)

TAK semua stasiun televisi nasional menyiarkan musik dangdut, awalnya. Kalaulah sampai sekarang didata, mungkin tinggal tak seberapa yang ‘anti dangdut’ dalam siarannya.

Dulunya, angap saja, stasiun televisi paling dangdut adalah TPI (kini MNCTV). Dan kini ia tidak sendiri. Ada Indosiar yang acara dangdutannya digeber saban malam, sampai tengah malam.

Musik dangdut, boleh dibilang, adalah musik unik. Saya tak hendak berbicara dari segi musik semata (karena saya tak paham picth control, cengkok dan sebangsanya), tetapi memandang dari kenyataan bahwa, bisa jadi, tak seorang pun di negeri yang tak tahu lagu dangdut. Perkara kemudian ada orang yang agak ‘alergi’ terhadap dangdut adalah soal lain. Dan itu banyak sekali faktornya; bisa dari syairnya, iramanya, biduannya dsb.

Dangdut (sebagai tayangan televisi) pun banyak ragamnya. Sebagai program yang tidak ujug-ujug ada, tentulah dangdut di televisi lebih dulu dikonsep begini-begitunya. Tata panggungnya, lighting-nya, sampai –tentu saja– biduannya (baju yang hendak dikenakan sampai goyang yang hendak disuguhkan). Sesopan-sopannya yang dituntut produser, bila yang tampil Trio Macan, misalnya, dengan iringan musik yang di-koplokan, dengan lagu Hanoman Obong, bisa ditebak, si Trio Macan akan secara spontan bertingkah sesuai tabiatnya. Dan, bila itu siaran live, ia menjadi laksana rokok tanpa flter. Yang doyan bilang mantap, yang nggak doyan akan batuk-batuk.

Tro Macan saat tampil dalam Dag Dig Dut

Atau memang begini; sebinal-binalnya gaya biduan, bila musik yang mengiringi diaransemen dengan cantik, ia tampil menjadi lebih elegan. Contoh kasus mungkin program Larasati di JTV. Lagu Sakitnya Tuh Disini, ketika dikoplokan dalam Stasiun Dangdut atau Goyang Terus (juga di JTV) membuat siapapun biduannya akan bergaya koplo, dan dalam Larasati (karena diransemen secara lebih santun), ia menjadi sangat berbeda. “Nonton Larasati, bikin hati adem,” begitu komentar seorang teman ketika tempo hari saya mengunggah foto layar JTV saat Larasati disiarkan.

TransTV pernah punya program dangdut yang dikemas elegan. Bukan, bukan Digoda (Digoyang Dangdut), tetapi Diva Dangdut. Betul, Kristina yang membawakan. Program itu lebih berkelas ketibang YKS yang telah distop itu. Diva Dangdut lebih kepada kualitas suara katimbang gaya. Bandingkan dengan YKS yang lebih menjual goyang Oplosan dengan gerak yang –ada yang bilang– erotis.

Sudah, saya tak hendak mengajak adu pendapat dengan siapapun tentang apa dan bagaimana batasan antara goyang erotis dan yang tidak. Tetapi, kemarin saya mendapati TransTV kembali membuat program dangdut yang (sepertinya) goyang sebagai ‘jualannya’. Nama acaranya Dag Dig Dut. Saya berpikir, nama itu adalah plesetan dari dag-dig-dug. Itu seperti debar jantung. Nah, apakah acara itu memang dimaksudkan membuat pemirsanya menjadi deg-degan kala menyaksikan biduan yang tampil bergoyang? *****

Channel Baru di Asiasat7

Ch. baru ass7SAAT saya membuat tulisan ini, Skynindo di PalapaD memang sedang tidak meng-FTA-kan (lagi) siarannya. Terakhir kali FTA, kalau saya tidak salah ingat, adalah ketika Tahun Baru Imlek (19 Pebruari kemarin). Tak apalah. Karena saat ini, kalau ingin melihat siaran pay tv yang sedang FTA, saya bisa langsung meluncur ke Asiasat7 (di salah satu reciever saya masih bernama Asiasat 3S) dan scan pada frekuensi 3938 V 28101. Disitu ada Star Movies HD dkk.

Seperti halnya di PalapaD yang belakangan banyak muncul konten baru (RodaTV, EDU, Demokrasi, N3News dll) di Asiasat7 juga ada channel baru. Masih berstatus ‘Coming Soon’ dan sebagaimana N3News di PalapaD, juga sedang test signal.ETC

Walau kurang memahami karena kendala bahasa, saya duga channel baru yang mula-mula bernama Play Aflam –sekarang Dtv–(freq. 3913 V 7259) di Asiasat7 itu agak mirip dengan Zing atau ETC yang berisi lagu-lagu (India, tentu saja). Lumayanlah, bagi yang suka goyang India, ini bisa menambah koleksi channel untuk mengiringi menggoyang kaki. Ada juga yang baru disitu, dan sudah HD; PeaceTV. Ada yang berbahasa Inggris, ada yang pula Urdu. Dan yang ini, seperti HadiTV atau Hidayat, adalah channel dengan materi Islam. *****

Membungkus DVB-T2, Membuka DVB-S2

Kompas Digital

Pada siaran Digital terrestrial, tayangan Liga Jerman di KompasTV tidak diacak. Pada gambar juga bisa diketahui konten baru TVRI-3 dan TVRI-4. Saya melakukan scan pakai STB PF-209.

KABAR tentang dimenangkannya gugatan asosiasi tv lokal terhadap peraturan Menkominfo tentang penyelenggaraan siaran televisi digital mendapat tanggapan beragam dari penikmat televisi. Ada yang masih optimis siaran televisi digital pasti tetap digelar karena secara teknologi ini adalah keniscayaan, tetapi ada pula yang menuliskan, “Ya sudah, STB saya bungkus lagi,” di status Efbi, dan bahkan ada pula yang mengumpat karenanya. Kemarin, beberapa hari setelah putusan itu dibuat, saya lihat MUX MNC (634/ch.41) sudah menghilang dari udara Surabaya. Entah ini efek dari putusan itu atau apa, tetapi TVRI (586/ch.35) malah bertambah kontennya dengan mengudaranya TVRI-3 (Budaya) dan TVRI-4 (Sport), meramaikan konten TVRI yang selama ini telah ada (TVRI Surabaya, TVRI HD dan TVRI Nasional). Bukan tentang TVRI yang terlanjur jarang ditonton orang, tetapi bahwa siaran televisi digital terrestrial memang kudu terus diperjuangakan (payung hukumnya) walau sekarang sedang menghadapi jalan terjal. Okelah, sebagai awam, saya memahami pihak penggugat itu ngotot ‘hanya’ karena yang selama ini memenangi lelang MUX TV Digital adalah orang/pihak yang itu-itu juga. Yang nota bene adalah para raksasa pertelevisian di Indonesia. Lalu, karenanya, kalau ingin bersiaran secara digital (dan ini menjadi harus kala kanal analog di-switch off-kan), para pengelola TV lokal itu mesti menyewa MUX dengan harga mahal kepada para raksasa itu. Ini yang memberatkan, karena untuk berebut kue iklan TV lokal juga hanya kebagian sisa-sisa saja sampai-sampai (untuk bertahan hidup) mereka menayang Home Shoping sampai pengobatan tradisional. Itu saja perkiraan saya, selebihnya saya kurang tahu. Seperti teman yang membungkus kembali STB DVB-T2-nya, saya pun melakukan hal yang sama. Walau kalau lagi ingin, saya keluarkan lagi benda itu demi melihat MUX mana saja yang tetap ON dan mana yang sedang menghilang dari udara.

LNB rompal

Maksud hati mau modifikasi LNB, eh malah rompal. Akhirnya, setelah ganti LNB, sinyal Asiasat 3S bisa lebih maksimal juga.

FTV

Lumayanlah, walau SQ hanya mentok di angka 56%, FashionTV bisa ditonton tanpa cekot-cekot.

Saya menjadi agak terhibur manakala (seperti Anda tahu) sekarang ini saya sedang hobi-hobinya oprek parabola. Masih dalam taraf belajar sih. Tetapi, karenanya, saya menjadi tidak terlalu kecewa dengan siaran DVB-T2 karena saya bisa menonton via DVB-S2 (satelit). Pasang 1 LNB sudah bisa, sementara ingin naik kelas pasang 2 LNB selalu gagal, saya malah nekat pasang LNB 3 in 1. Dan, lumayanlah. Setelah berkali-kali berusaha (sampai salah satu LNB rompal hanya karena ingin lebih mendempetkan Telkom dan Asiasat 3S agar sinyal tertangkap lebih maksimal) akhirnya bisa lock juga. Bisa nonton channel di Palapa-D, Telkom-1 dan Lotus, Al Jazeera, NHK, Russia Today dan aneka channel ‘goyang India’ di Asiasat 3S. Sambil menunggu langkah yang akan diambil Depkominfo (karena masih punya waktu 14 hari sejak putusan dikeluarkan untuk melakukan upaya banding) saya bisa leyeh-leyeh menikmati aneka hiburan televisi, mulai dari musik, channel religi, kartun anak-anak di Telkom-1, atau kadang sampai eneg melihat begitu banyaknya saluran home shoping di Palapa-D sampai menggoyangkan jempol kaki mengkikuti irama musik India di Dekho, ETC, Zing dan atau sesekali mengintip Paris Fashion Week (FashionTV) di Asiasat 3S. Dan mendapati kenyataan; bahwa tak satupun model busana yang disiarkan 24 jam disitu saya nilai sesuai untuk dikenakan istri saya. *****

Modifikasi Tiang Fokus Parabola

TADINYA saya menduga posisi tiang fokus pada dish 6 feet saya salah satunya tetap berada di sisi barat. Tetapi, “Untuk dish yang menggunakan 9 rib, letak salah tiang fokus bukan persis di arah barat,” pernyataan seorang teman Facebook itu membantah dugaan saya.pindah tiang fokus

Karena penasaran, saya naik ke dak rumah, tempat dimana dish saya itu berada, sambil membawa kompas. Dan benarlah adanya; saya perhatikan lebih seksama, salah satu tiang yang selalu saya jadikan acuan dalam memasang LNB itu ternyata posisinya agak serong ke utara, bukan ke arah barat persis.

Dan teman baru facebook saya itu dengan baik hati juga mengirmkan gambar hasil modifikasi tiang fokus yang telah dilakukan. “Kalau hanya pasang 1 LNB, tang fokus sesuai garis warna kuning. Sementara warna biru adalah posisi yang ditentukan pabrik, dan itu agak ideal untuk pemasangan 2 LNB. Nah, yang ideal adalah yang warna hijau. Tetapi, ya itu tadi, agar berada pada timur-barat secara persis harus dimodifikasi sedemikian rupa” terangnya panjang lebar. ” Agak ribet sih, tetapi yang penting kan hasilnya,”3 in 1 Matrix LC999

Dengan gambar tersebut, saya bisa melakukan prakiraan posisi jikalau saya akan memindah letak tiang fokus demi belajar memasang LNB 3 in 1 LC999 Matrix yang menurut petunjuk di kemasannya bahwa salah satu tiang fokus harus ada di sisi timur. Padahal, yang terpasang sekarang, posisinya satu di (agak) barat, dan dua lainnya mengangkang di tenggara dan timur laut. *****

Mengawinkan Palapa dan Telkom

LNB kembarRADA jenuh menunggu perkembangan siaran televisi digital terrestrial yang terasa jalan di tempat, iseng-iseng saya belajar merangkai antena parabola. Dengan pengetahuan yang minim, sungguh saya terbantu oleh mBah Google. Sebagai tracker anyaran, saya merasa cerewet sekali. Dikit-dikit tanya, dikit-dikit tanya. Nah, saya membayangkan, kalau yang saya tanya itu bukan mBah Google, tentu saya telah dicap sebagai murid yang menjengkelkan.

Sejak belajar merangkai sendiri sampai bisa (dikit-dikit) tracking, saya merasa lumayanlah. Toh masih pemula, toh dari zonk awalnya, sekarang sudah bisa nembak Chinasat, Asiasat 3S atau keluyuran ke ‘kebun pepaya’ di Thaicom5. Hehe… (Eh, tetapi di Tahicom5 yang polarisasi Vertikal, dimana ‘kebun pepaya’ itu berada, sekarang raib ya? Entah kalau altemnya dish ukuran besar?)

Dengan bersenjatakan dish mesh 6 feet, saya merasa pakai 1 LNB sudah bisa. Sekarang, karena sudah bosan tiap malam petakilan mengubah arah antena, toh tak mungkinlah semua siaran televisi itu saya tonton, saya ingin (naik kelas) mengawinkan si Telkom dan Palapa. Itu tahap awal, karena nantinya saya juga ingin pasang tiga atau empat LNB; nembak si Palkom, Asiasat 3S juga Asiasat5. Itu target beikutnya. Dan, lagi-lagi, kepada siapa lagi saya berguru kalau bukan kepada mBah Google. Oh, tidak selalu ding. Karena saya juga belajar tentang ilmu persatelitan di grup-grup itu di media sosial.

Tadi malam, karena cuaca lagi cerah (padahal biasanya tiada malam tanpa hujan), saya nawaitu menggabung si Palapa dan Telkom. Untuk Palapa saya pakai LNB Venus, untuk Telkom saya pasang Matrix. Saya pastikan keduanya berkondisi fit. Karena untuk tracking 1 LNB sudah terbukti tidak ada masalah.

Dengan jarak yang saya sesuaikan dengan petuah mBah Google dan kawan-kawan sosmed, saya pasang dua LNB yang sudah saya rangkai di scalar ring ke tiang fokus. Dan, taraa….: Palapa oke, Telkom zonk! Puih, apa yang salah? Saya geser timur-barat pelan-pelan, utara selatan juga secara perlahan, tetap no signal. Saya lihat 0*-nya juga sudah sejajar.  Mana sudah janji pada si kecil untuk cari SpaceToon lagi. Juga, mana mata tetangga pada curi pandang, mungkin sambil membatin, “Kurang kerjaan amat malam-malam di atas atap utak-atik parabola…”
Haddeww….

Karena sudah kadung penasaran, pantang turun sebelum menaklukkan Telkom. Hehe, menuliskan ini sungguh memalukan sebenarnya. Sebagai ‘musuh’ yang harus ditaklukkan, Telkom itu kelas teri bagi para tracker sejati. Karena kepuasannya akan jauh berbeda kala berhasil lock satelit yang nyaris out beam, misalnya. Ini Telkom, sob, Telkom….

Tetapi kalau saya malu duluan, mana mungkin bisa naik kelas 4 LNB. Bukankah sebelum 3 atau 4 saya harus belajar dulu oprek pakai 2 LNB?

Segini saja dulu tulisan ini, saya ingin nanti malam petakilan lagi. Kudu bisa, pokoknya. RCTI atau SCTV MPEG2 atau TVRI Sport di Palapa harus cling, KBS atau RTTL di Telkom juga jangan sampai zonk.

Ohya, bagaimana pengalaman pertama Anda merangkai 2 LNB? *****

Jamur yang Nganggur

Parpol Roof 1GEDUNG tempat kerja saya ini mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun 90-an. Saat mana layanan pay tv belum sesemarak sekarang. Atau belum ada malah. Nah, untuk kebutuhan hiburan televisi, karenanya disediakan beberapa parabola ukuran besar yang diletakkan di top roof. Dengan dilengkapi perangkat yang mendukung, aneka siaran pilihan dari beberapa satelit itu kemudian didistribusikan ke semua penghuni.Parbol Roof 2

Sekarang, duapuluh tahun berselang, sejak beberapa tahun lalu kami memakai jaringan tv kabel FirstMedia, otomatis segala perangkat pendukung iitu menjadi menganggur. Termasuk beberapa dish ukuran besar yang ditata laksana jamur di atap gedung.

Layanan pay tv banyak sekali pilihannya sekarang. Untuk menikmatinya tak lagi diperlukan antena sebesar gajah, cukup dish offset berukuran mini. Kalau saya lagi ke atap, saya bisa saksikan banyak sekali dish kecil terpasang diantara ‘jamur’ raksasa yang nganggur.Parbol Roof 3

Melihat dish sebesar dan sebanyak itu menganggur, bagi tracker tentu bisa bikin air liur mengucur. Hehe..

Parbol Roof 5

Pada dish 16 feet, ternyata untuk setting LNB teknisi bisa dengan sambil berdiri di titik tengah ‘jamur’..

Parbol Roof 4

Perangkat pendukung ini pun sekarang juga menganggur.

Nah, kemarin (23/1/2015) saya mendampingi teknisi untuk setting parabola di atap. Karena secara lokasi sudah tidak memungkinkan pemasangan parabola baru (disebabkan area top roof juga dimanfaatkan untuk kepentingan lain), maka si teknisi memanfaatkan satu dari sekian dish yang menganggur. Pilihan jatuh kepada jamur berukuran 16 feet merek Paramount. Meihat kondisnya masih bagus walau telah bertengger di atap nyaris duapuluh tahun lamanya, bisa dibilang dish itu awet sekali. Namun sebagai wajan sebesar itu hanya dipakai nembak Asiasat 3S dan Telkom-1, siapapun kita pasti bilang sayang sekali. Padahal, dengannya kita bisa pakai lebih maksimal lagi.*****

Siaran Televisi Digital di Jember

DTV Jbr 3MINGGU kemarin saya ada acara ke Jember. Waktu yang tak lama itu saya manfaatkan juga untuk menjajal lagi (karena dulu saya juga telah pernah melakukannya) set top box, demi mencari tahu sudah seberapa perkembangan siaran televisi digital terrestrial di Jember. Dulu, seingat saya, MetroTV telah bersiaran secara digital di Jember. Sendiri saja, tanpa kawan. Sekarang, apakah ia sudah ada teman MUX lainnya?

Kemarin itu, mula-mula saya duga frekuensi 610 Mhz (Ch. 38) milik Metro masih ada. Ternyata; malah yang tertangkap ketika saya scan adalah MUX milik MNC pada channel 42 (642 Mhz) dan channel 45 (666 Mhz) yang dihuni MUX TransCorp, sementara MetroTV sama sekali tidDTV Jbr 1ak ke-detect.

Seperti biasa, MUX grup MNC berisi RCTI, MNCTV dan GlobalTV, sedangkan TransCorp yang biasanya (di kota lain) selain ditempati TransTV, Trans|7 dan KompasTV, di Jember ini KompasTV tidak ikut serta. Bisa jadi, saya duga, KompasTV memang belum memiliki ijin siaran di Jember.

Satu lagi, bila di Surabaya (yang saya tahu) channel digital semua ada di angka ganjil, untuk Jember kok kombinasi ganjil-genap ya?! (MetroTV channel 38, MNC channel 42 dan MUX TransCorp channel 45.)

Jarak dari tempat saya melakukan scan sekitar 30 km dari pemancar (bila pemancar digital itu dari daerah Bangsalsari). Dengan jarak segitu, saya rasakan, sinyal tertangkap dengan stabil. Entah kalau melakukan scan dari daerah yang jaraknya lebih jauh dari itu. Juga, ada yang bertanya lewat email saya; dengan jarak antara rumah dan pemancar 100km apakah sinyal digital masih bisa diterima?DTV Jbr 2

Jujur, secara teknis saya tidak tahu. Tetapi, asumsi saya, penerimaan sinyal sejalan dengan kekuatan daya yang dipakai oleh sebuah pemancar plus pancaran itu tidak membentur penghalang. Betulkah begitu? Silakan, sebagai expert, Anda menambahkan informasi bila berkenan. Saya tunggu selalu.

Catatan: ‘altem’ (alat tempur) yang saya pakai scan di Jember tempo hari adalah: Antena: Titis TS-1000 dengan ketinggian tiang 7 meter, Kabel: Belden RG-6, set top box: PF-209. *****

Sopo-Jarwo vs Upin-Ipin

“BOS, Sopo takut, Bos,” suara itu muncul dari mulut lelaki bertubuh bongsor tetapi terkesan blo’on bernama Sopo kala diminta Sang Bos untuk menyeberangi jembatan kayu yang melintang diatas sungai untuk mengejar Adit yang bersepeda bersama Denis dan si mungil Adel.

Tentu saja si Bos marah. Jarwo, nama si Bos itu, memang cerdik sekaligus licik. Dalam alam cerita (animasi) rekaan atau dalam alam nyata, berbuat licik tentulah tidak baik, yang ganjaran untuk perbuatan itu tentu juga hal yang tidak baik. Jarwo (dan termasuk pula si blo’on Sopo) sering sekali ketiban sial gara-gara perbuatannya sendiri.

Film animasi yang tayang saban sore di MNCTV ini tentu saja diniatkan memuat pesan-pesan tertentu. Bahwa, jangan sampai penonton cilik (saya duga film ini segmen yang dibidik memang anak-anak) meniru kelakuan Jarwo dan Sopo. Untuk memperkuat penyampaian pesan moralnya, melengkapi yang tersamar, seringkali Pak Haji (yang suaranya mirip Deddy Mizwar, walau sebenarnya sang pengisi suara bukan Wagub Jabar itu) menyampikan nasihat untuk si duet maut; Sopo-Jarwo.

Barusan, bersama beberapa teman, saya iseng membahas tentang film animasi yang sedang naik daun ini. “Dibanding Keluarga Somad, aku lebih suka Sopo-Jarwo,” kata seorang teman yang segera diiyakan dua teman saya yang lain.

Ya, secara visualisasi saya sependapat dengan mereka. Keluarga Somad (tayang di Indosiar saban Minggu siang) gerakannya terkesan kurang ‘halus’, walau tentu saja lebih halus dibanding Si Huma, film animasi produksi dalam negeri yang tayang di TVRI tahun 80-an. Namun, dengan hadirnya Keluarga Somad dan Sopo-Jarwo (beserta kekurangan dan kelebihannya) tentu saja adalah suatu hal yang patut diapresiasi. Animator kita ternyata bisa. Dan, pernah kita dengar, banyak ternyata animator Indonesia yang pergi ke luar negeri menggarap film di negara lain yang dipasarkan secara global, sementara film animasi di dalam negeri seperti mati suri.

Sopo-Jarwo, kalau begitu, semoga menjadi semacam garis start baru untuk mengejar ketertinggalan kita di bidang film animasi. Tak usahlah muluk-muluk mengalahkan (atau sekadar menyamai) garapan Walt Disney, tetapi untuk ngelahin Upin-Ipin masa gak mungkin?

Ya, lawan terdekat kita adalah duo kembar Upin-Ipin yang saban petang rajin sekali menyambangi rumah kita juga lewat layar MNCTV. Teman bicara saya yang saya ceritakan di atas termasuk pihak yang menilai Sopo-Jarwo masih kalah dibanding Upin-Ipin. Ya garapan geraknya, ya variasi ceritanya.

Atau secara paketan, Sopo-Jarwo + Keluarga Somad, kalau dipers(t)andingkan dengan Upin-Ipin + Boboi Boy, secara jujur saya bilang milik kita masih kalah. Tetapi, seperti pernah disinggung seorang motivator, untuk mengejar ketertinggalan, diperlukan langkah pertama diikuti langkah-langkah selanjutnya secara kontinyu dan tak mudah menyerah.

Keluarga Somad dan Sopo-Jarwo adalah langkah itu. Kita kudu mendukungkannya agar ia makin maju, makin ‘halus’ sekaligus makin bervariasi tema ceritanya.. Apakah kita tidak gundah manakala anak-anak kita lebih fasih menyapa Ibu guru mereka dengan ucapan “Selamat Pagi, Cik Gu” dibanding “Selamat Pagi, Bu Guru” hanya karena dia lebih sering (dan senang) menonton nonton film animasi dari negeri jiran ketimbang buatan dalam negeri?

Ya, saya bertanya kepada Anda, bukan kepada Ipin yang pastilah ia akan bilang, “Betul, betul, betul…” *****

Mau Dibawa ke Mana Siaran Televisi (Digital) Kita?

Oleh: Redi Panuju*

BANYAK yang tahu, pada 2018, masyarakat Indonesia akan mendapat sajian acara televisi yang suaranya jernih dengan gambar kinclong (seindah warna aslinya). Sebab, saat itu, pemerintah Indonesia mencanangkan migrasi total sistem siaran televisi analog menjadi digital. Sosialisasi untuk itu sudah tidak terhitung banyaknya dilakukan pemangku otoritas informasi, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), melalui berbagai saluran.
Sayangnya, rencana yang elok tersebut tidak dibarengi penataan aspek yuridisnya. Akibatnya, banyak waktu selama ini yang habis untuk konflik dan beradu ’’kebenaran’’ lewat jalur hukum. UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dipandang sudah tidak mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat, apalagi mengurai problematika penataan infrastruktur penyiaran sehingga menimbulkan persoalan ketidakpastian.
Kemenkominfo sebetulnya menyiapkan kebijakan sejak 2007 yang ditandai dengan Permen Kominfo No 7 Tahun 2007 tentang Standar Penyiaran Televisi Digital Teristrial, disusul Permen Kominfo No 5 Tahun 2012 tentang hal yang sama. Persoalan regulatif muncul ketika Kemenkominfo menerbitkan Permen Kominfo No 22 Tahun 2011. Permen tersebut direaksi keras karena di dalamnya banyak hal yang bertentangan dengan Undang-Undang Penyiaran maupun Undang-Undang Telekomunikasi.
Salah satunya, dalam proses penataan, pemerintah meninggalkan peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tidak memperhatikan aspek keadilan bagi pemain lokal, serta menyerahkan penataan kepada pemenang tender (multiplexing provider) yang notabene berasal dari kalangan pengusaha (stasiun TV swasta). Menyerahkan penataan frekuensi kepada pihak swasta (meskipun menang tender) tidak saja bertentangan dengan UU Penyiaran, namun lebih dari itu, melawan UUD 1945. Bila dianggap sebagai sumber daya yang terbatas dan langka, seharusnya frekuensi dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Karena itu, berbagai pihak melawan permen tersebut melalui jalur hukum dan akhirnya MA memutus untuk membatalkannya pada 23 Juli 2012. Setelah keluarnya putusan MA tersebut, masyarakat berharap pemerintah merevisi hal-hal yang bersifat substansial yang bisa berakibat cacat hukum. Namun, kenyataannya, ibarat pepatah ’’biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu’’, Kemenkominfo menerbitkan permen pengganti, tetapi dengan isi yang sama (Permen Kominfo No 32 Tahun 2013).
Bagi pemerintah, persoalan regulasi sistem digital tersebut, tampaknya, sudah kepalang basah. Sebab, bila harus menghentikan proses atau mengulang proses, mereka bisa digugat pemenang tender. Tentu sudah banyak kapital yang dikeluarkan pemenang tender. Dalam prinsip bisnis, setiap receh yang dikeluarkan tidak boleh sia-sia, harus mendapat keuntungan atau setidaknya manfaat (benefit). Karena itu, akhirnya Kemenkominfo mengambil jalan kompromistis. Proses tetap dijalankan, tetapi tetap melalui pintu komisi penyiaran.
Sejak setahun lalu, Komisi Penyiaran Indonesia daerah (KPID) di seluruh Indonesia memproses penataan infrastruktur penyiaran sesuai dengan peraturan perundangan. Para pemohon izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) televisi digital itu tidak hanya berasal dari pemain lama yang telah berproses izin televisi analog, namun juga para pemain baru yang ingin meramaikan penyiaran televisi digital.
Bahkan, di antara yang mengajukan IPP untuk televisi digital itu, ada beberapa yang berbentuk penyiaran televisi komunitas. Sebelumnya tidak pernah ada masterplan kanal untuk televisi komunitas. Melalui sistem TV digital, peluang itu terbuka melalui multiplexing yang diberikan kepada TVRI.
Namun, penataan sistem digital tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Para pemohon mengalami kebuntuan ketika negosiasi harga untuk sewa slot kepada pemilik (pemenang tender) Mux. Pada umumnya, mereka mengeluh karena harga sewa sangat tinggi sehingga tidak mungkin dipenuhi. Itulah akibat penataan kanal diserahkan kepada swasta. Kanal frekuensi dalam pandangan pemerintah menjadi identik dengan komoditas yang layak diperjualbelikan. Padahal, sesuai dengan UU No 32/2002, dilarang memperjualbelikan IPP. Lha kok, pemerintah malah ’’menjual’’ kanal? Ironis…
Dalam situasi yang belum jelas dan belum pasti itu, tiba-tiba Kementerian Kominfo menerbitkan Keputusan No 1017 Tahun 2014 tentang Peluang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta Jasa Penyiaran Televisi secara Analog.Tentu, terbitnya keputusan tersebut menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya, apakah pemerintah akan menunda penataan TV digital? Lantas, bagaimana dengan mereka yang telah mengajukan IPP untuk TV digital, sedangkan dalam Keputusan No 1017 tersebut disertakan klausul bersedia berpindah ke digital bila telah mendapat IPP analog? Apa pun jawabannya, hal itu menunjukkan ketidakpastian penataan TV dengan sistem digital.
Lantas, banyak pemohon IPP digital yang ingin mengubah pengajuan mereka menjadi analog. Sebab, dengan begitu, mereka bisa bermain di analog dulu sambil menunggu sistem digital berjalan efektif (yang kepastian waktunya belum jelas). Namun, mengubah pengajuan IPP itu pun bukan perkara mudah. Sebab, mereka harus mengubah akta pendirian, NPWP, HO, SIUPP, surat keterangan domisili, IMB, dan rekomendasi kelayakan administrasi dan teknis dari pemerintah provinsi (biasanya dinas kominfo).
Pertanyaan penutupnya: mau dibawa ke mana televisi (digital) kita? (*)

*Redi Panuju, Pengajar Ilmu Komiunikasi Unitomo Surabaya.

Sumber: Halaman Opini Jawa Pos, tanggal 2 Januari 2015.

Countdown Ramadhan di TV9

KARENA tulisan ini saya buat tanggal 2 Mei 2014, maka di layar B Channel pada kiri atas sudah bukan lagi berbentuk angka seperti kemarin-kemarin. Tetapi “Besok”, sebagai ganti dari hitung mundur berubahnya B Channel menjadi RajawaliTV alias RTV. Patut ditunggu, apakah bergantinya B Channel menjadi RTV tetap menjadikan stasiun televisi itu berbeda dengan yang lain, atau malah latah meniru yang sudah ada. Kalau demikian kenyataannya, sungguh lebih baik tetap menjadi B Cahnnel yang punya identitas walau sungguh secara profit tidaklah sebesar televisi lain yang menjual acara-acara yang pokoknya laku.

Hitung mundur adalah hal lumrah bagi stasiun televisi untuk sebuah moment. MetroTV di kanan atas layarnya memasang Indonesia Memilih/Memilih Presiden Baru, sementara tvOne meletakkan hal serupa di kiri atas dengan tulisan Presiden Pilihan Rakyat. Bedanya, di tvOne, karena sebagai televisi yang menyiarkan Piala Dunia bersama antv, tampilan hitung mundur itu diselang-seling dengan hari H kick off Piala Dunia Brasil.

RCTI lain lagi, walau ulang tahunnya baru digelar 24 Agustus nanti, di belakang stationID-nya sudah lama muncul angka 25 sebagai penanda umurnya.

TV9 pun tak mau ketinggalan. Sudah beberapa hari ini saya dapati ada hitung mundur di layar kiri atas. Bunyinya; …. hari menuju Mutiara Ramadhan. (tahun lalu tulisannya: Menuju Ramadhan S4ntun, –angka 4 pengganti huruf A sebagai penanda kala itu TV9 menyambut usia 4 tahun).

Sepintas tak ada hal aneh dari countdown-nya TV9 itu. Tetapi, kalau ditilik dari sisi NU sebagai pemilik stasiun televisi yang hari-hari ini sedang uji coba siaran via satelit Telkom-1 (freq. 3552, symbol rate 3100, polarisasi horizontal) ini, hitung mundur menuju bulan ramadhan itu patut dipertanyakan. Karena, berbeda dengan Muhammadiyah yang memakai metode hisab, NU cenderung kepada rukyat. Jadi, kepastian datangnya bulan suci sering disepakati pada detik-detik terakhir dan bukan jauh-jauh hari begini.

Atau, Mutiara Ramadhan itu hanya sebagai nama acara ya? *****

Ada (Iklan) NET di MetroTV

KALAU tidak ada acara yang ditayangkan bareng, misalnya Panasonic Award (oleh MNC grup) atau Piala Dunia oleh antv dan tvOne, belum pernah saya temui sebuah promo program acara ditayang di stasiun televisi lain, yang satu grup sekali pun.

Tetapi, beberapa hari ini, ada kemunculan promo program NET dalam iklan di MetroTV. Indikasi apakah ini? Dengan beda pemilik begitu, makin kurang bisa dipahami kenyataan itu. Muncullah beberapa kemungkinan. Pertama, sekalipun (bagi saya) kurang lazim, itu semata adalah hubungan bisnis semata. NET sebagai pemasang iklan, Metro sebagai yang menayangkannya. Itu saja, tak lebih dan tak kurang. Ya seperti iklan obat panu-lah. Kedua; akan adanya ‘koalisi’ antara Wishnutama dan Surya Paloh. Dalam bentuk apa?

Yang terbesar adalah adanya adanya jual beli antara keduanya. NET dibeli Metro atau sebaliknya. Dan kemungkin lainnya adalah bergabungnya NET dalam MUX MetroTV untuk siaran digital terrestrialnya.

Kemungkian yang mana yang sesungguhnya akan terjadi? Ya ditunggu saja. *****

Cak Lontong yang Sedang Kinclong

DIBANDING teman sekantor yang lain, lelaki berpostur tinggi besar itu termasuk yang berpenampilan paling santai. Sudah begitu, tutur katanya pun sering mengundang tawa. Saya mengenalnya sebagai Pak Hartono (saya tidak tahu nama depan dan atau nama belakangnya).

Setiap pagi, kedatangannya selalu saya tunggu. Ya, karena dulu di kantor tidak berlangganan koran, sementara Pak Hartono selalu datang membawa koran, barang itu selalu jadi rebutan. Tetapi, “Sini, sini,” katanya sambil mengambil kembali lembar-lembar koran yang sudah kami pegang per segmen. Lalu, dikumpulkanlah lagi untuk kemudian distaples, “Nah, begini supaya tidak terjadi dis-integrasi,” ujar Pak Hartono.

Salah seorang teman blogger (sebagaimana kebanyakan pembaca pada umumnya) suka yang namanya cerita ‘luar duga’. Dalam berbincang santai sebelum jam kerja dimulai, si Pak Hartono ini sering juga memakai teknik itu. Misalnya, suatu hari ia bilang, ‘jangan lihat siapa yang bicara, tetapi telaahlah apa yang dibicarakan’. Karena, “Kalau mutiara, sekali pun keluar dari mulut anjing, ya tetap…”

Mutiara,” sahut saya spontan menyambar kalimat yang digantung itu.

Tetap anjing yang mengeluarkan,” dengan intonasi yang khas, yang terlihat tidak ngawaki sama sekali, Pak Hartono mengoreksi jawaban saya.

Lama sudah saya tidak berjumpa langsung dengan Pak Hartono. Terakhir ketemu, pas melayat meninggalnya Pak Widodo dan kami mengantarkan jenazah sampai ke pemakamam Dinoyo, Surabaya. Tetapi, sekali pun begitu, saya masih bisa melihat aksi Pak Hartono di layar kaca. Mula-mula di JTV saat main bareng grup ludruk Tjap Toegoe Pahlawan. Saat itu Pak Hartono sudah tidak bekerja lagi di tempat kerja saya ini. Dari televisi lokal di Surabaya, lama-lama saya lihat ia bisa menembus televisi nasional di Jakarta. Di TVRI, di tvOne, di MetroTV di KompasTV, dan yang lagi kinclong sekarang ini adalah penampilannya di Indonesia Lawak Klub Trans|7.

Hartono?! Di ILK? Ah, gak ada tuh!
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.

Ketika bekerja di tempat ini dulu, tidak jarang ia masuk kantor hanya bersandal. Jan santai tenan pokoknya. Kalau tidak salah, sedannya agak butut, warnanya abu-abu, yang kalau saya intip ke jok belakang, tidak jarang ada baju pentas di situ; hitam dengan renda kuning keemasan. Entah itu kostum apa. Tetapi mengingat posturnya yang tinggi begitu, kalaulah jadi Punakawan, pantesnya ia memerankan Petruk. Pada kaca belakang sedannya, tertera identitas yang menjadi nama artis-nya sekarang ini; Cak Lontong.

Di acara yang jelas terlihat sebagai parodi dari Indonesia Lowyers Club-nya tvOne itu, jelas sekali gaya pak Hartono, eh Cak Lontong ding, berbeda sekali dengan lawak yang lain. Permainan kata yang cerdas, pengungkapan hasil survei yang ngawur tapi menghibur, sungguh menjadi magnet dari ILK itu sendiri. Makanya tidak heran kalau hasil survei Cak Lontong selalu ditampilkan agak di belakang, sebagai gong dari ILK.

Setiap masa ada pahlawannya, sebagaimana setiap pahlawan ada masanya. Di dunia keartisan televisi berlaku pula hukum itu. Dulu pernah saya teliti, di jaman keemasannya Bukan Empat Mata-nya Tukul, dari sepuluh tetangga yang saya survei, tujuh diantaranya memutar Trans|7, sementara tiga lainnya numpang nonton disitu. (ih, niru Cak Lontong ya?)

Tetapi tabiat televisi selalu berulang, ketika rating sebuah acara sedang menjulang, durasi acara ditambah dengan waktu tayang yang saban hari. Sebuah kondisi yang bisa melahirkan kebosanan. Sebagus-bagusnya program Golden Ways, atau Kick Andy, atau apapun itu, bila ditayang seminggu penuh, tentu pemirsa menjadi jenuh. Hal ini yang harus disadari tim kreatif ILK. Karena, sebagaimana lawakan di layar kaca, sebuah materi atau celetukan humor yang menjadi tidak lagi lucu bila dipakai di lain hari.

Untuk Cak Lontong, selamat. Karir Anda makin kinclong. Salam lemper. *****

TVRI-HD, Haddeww….

KALAU ditanya ‘acara apakah di TVRI yang bagus menurut Anda?’ apa yang harus Anda katakan? Akan sulit menjawabnya manakala kita sudah sangat jarang menonton tayangan televisi tertua di Indonesia ini. Memang, dulu TVRI pernah berjaya dengan serial macam Losmen, Jendela Rumah Kita, ACI, atau Pondokan-nya Daniel Conk.. Di jajaran acara musik ada Selekta Pop yang dibawakan Mariana Ramelan, Aneka Ria Safari dengan Eddy Sud-nya , Kamera Ria sampai yang terakhir (buatan PH) Video Musik Indonesia dengan presenter Dian Nitami. Itu dulu. Yang semua acara di TVRI terlihat bagus karena ia masih sendiri saja. Sekarang?

Untuk acara talk show, untungnya TVRI masih punya Sugeng Sarijadi Forum setelah ditinggal Jaya Suprana Show hijrah ke KompasTV. Sama-sama acara talk show, Jaya Suprana mempunyai kekuatan tersendiri dibanding yang lain. (kalau tidak salah, acara yang dipandu bos MURI yang sekaligus pemilik Jamu Jago itu pertama kali tayang di TPI).

Kembali ke TVRI (walau tidak melulu untuk TVRI); bahwa dengan gampang bisa diketahui penyebabnya ketika sebuah stasiun televisi jarang ditonton orang. Yakni, kurang menariknya acara-acara di dalamnya. Pun bisa dikatakan, bahwa tidak semua acara yang disuka orang itu secara mutu bisa dibilang bagus. Jadi, idealnya, sebuah tayangan harus bagus secara kemasan sekaligus memberi pula added value kepada pemirsanya. Dalam hal ini, sebagai televisi plat merah, TVRI harus punya haluan yang jelas dibanding televisi swasta yang profit oriented.

Dengan begitu, TVRI harus mampu menempatkan diri secara ‘berbeda’. Tidak ikut arus tetapi harus membuat arus tersendiri yang deferensiasinya jelas.

Apakah TVRI telah ikut arus deras kapitalisme televisi yang kadang menomorsekiankan idelaisme dan gagal menyuguhkan sesuatu yang bernas? Perlu kajian mendalam tentang ini. Tetapi saya ambil contoh TVRI Programa2 Surabaya. Beberapakali saya lihat di channel 26 UHF (juga di kanal digital 35/586MHz) TVRI menayang program pengobatan alternatif. (acara serupa memang muncul di banyak stasiun televisi –lokal– dengan aneka nama, misalnya; Klinik Islami di TV9). Pertanyaannya, selayaknyakanh TVRI sebagai televisi publik menayang program itu? Jangan-jangan, nantinya, ia ikutan pula menayangkan channel Home Shoping yang menawarkan aneka barang dari peralatan olahraga sampai peralatan dapur dengan harga 99999 rupiah?

Melihat kenyataan di atas, sepertinya TVRI (Jawa Timur) miskin stok acara bermutu. Jadi, untuk apa dong siaran di kanal digital sampai 4 saluran kalau isinya semua sama. Bukankah itu hal yang mubazir. Satu lagi; kemarin seorang teman mengirimkan gambar ke wall akun Efbi saya yang mengatakan, TVRI HD itu palsu, karena ternyata ia masih SD.

o channel sbyIni sama seperti di sampul buku tertulis Best Seller walau sebenarnya buku tu tidak laku. Ya, bila memang demikian itu adalah kekurangjujuran. Kalau memang masih SD tentu tak perlu menamai salah satu channel itu sebagai TVRI_HD.

Haddewww…. *****

Televisi; Amunisi Politisi

PELAKSANAAN Pemilihan Umum yang digelar kemarin (9/4) bisa dibilang aman. Ada sih kejadian menonjol yang terjadi di Aceh pada saat menjelang. Namun, dalam pelaksanaan coblosannya sendiri relatif adem-ayem.

Di beberapa wilayah, memang akan dilaksananan coblosan ulang karena suatu hal. Termasuk juga pemungutan suara di Yahukimo yang harus dilakukan menyusul dikarenakan logistik pemilu yang terlambat sampai.

Namun begitu, perolehan suara telah bisa dibaca. Terlebih orang sudah lebih bisa menerima hasil dari quick count yang banyak dilakukan berbagai lembaga walau secara resmi penghitungan manual oleh KPU baru bisa diketahui sebulan setelah coblosan.

Dengan telah diketahuinya perolehan suaran hanya beberapa jam setelah coblosan, bagi rakyat kebanyakan, tentu hal itu bisa membuat mereka tidak lagi menerka-nerka dan bisa beraktifitas seperti biasa. Bagi para caleg pun demikian. Bagi yang lolos, silakan bersiap menata program (mudah-mudahan bukan program mencari ‘pembalasaan’ dari modal yang telah dikeluarkan), bagi yang tersingkir semoga tidak pendek pikiran sehingga terganggu secara kejiwaan.

Umum diketahui bahwa orientasi semua partai adalah kekuasaan. Maka pemenang pemilu telah mempunyai pijakan untuk langkah selanjutnya; Pemilihan Presiden. Pertanyaannya, apakah dengan menangnya PDIP membuat Jokowi yang digadang penjadi Presiden bisa menang mudah saat Pilpres nanti? Belum tentu.

Hari-hari ini banyak analisa yang menyoroti siapa lawan yang sanggup memberikan perlawanan seru terhadap mantan Walikota Solo itu, yang tentu saja (berdasar perolehan suara Pemilu kemarin) orang telah banyak tahu; Aburizal Bakrie (Golkar) dan Prabowo Subianto (Gerindra). Walau telah menyatakan sebagai pasangan yang diusung Hanura, sepertinya Win-HT harus tahu diri setelah melihat hasil quick count.

Capres sudah jelas siapa saja mereka, nah sekarang siapa pasangan cawapresnya? Inilah yang sedang ramai dibincangkan, dan inilah salah satu nilai tawar dalam koalisi yang hendak dibangun.

Hari ini Jawa Pos memuat prediksi siapa saja calon RI-2 itu di halaman depan. Pertama, yang merapat ke PDIP diperkirakan PKB, PAN dan NasDem sehingga bersama mereka terkumpul angka 42,63%. Dengan alternatif Capres Hatta Radjasa (PAN) atau Mahfud MD (PKB). Sementara yang bernaung di rindangnya partai beringin diperkirakan Hanura dan PKS dengan Wiranto (Hanura) atau Anis Matta (PKS) sebagai calon pendamping ARB. Modal dari koalisi ini 26,42%. Berikutnya, Gerindra berpeluang mengajak terbang bersama Demokrat dan PPP, dengan kemungkinan cawapresnya Dahlan Iskan (Demokrat) dan Surya Darma Ali (PPP). Angka 28,31% adalah modal yang lumayan hasil dari urunan tiga parpol ini.

Semua hal di atas itu ibarat peta (walau bukan buta) masihlah bisa berubah. Apa sih yang tidak mungkin terjadi dalam jagad politik. Tetapi taruhlah utak-atik itu dipakai, sungguh akan bisa dilihat pertarungan yang menarik. Saya tak paham poltik. Karenanya saya hanya akan melihatnya dari sisi televisi (suatu hal yang juga saya tak terlampau paham. Hehe :) )

Bila benar mereka-mereka itu yang akan bertarung di Pilpres 9 Juli nanti, peta pertelevisian juga menarik disimak. Misalnya, di belakang Capres PDIP ada MetroTV (plus Media Indonesia dan Lampung Post), sementara ARB (bila Hanura jadi ikut bergabung) sungguh besar stasiun televisi yang ‘mendukungnya’, antv, tvOne, RCTI, MNCTV, GlobalTV, SindoTV (SindoRadio, Koran Sindo). Bagaimana dengan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai Capres? Tidak mau kalah, bila Dahlan (sebagai kandidat kuat dari Demokrat) menjadi duetnya sebagai cawapres, selain CNTV yang dimiliki Prabowo, ada kelompok media raksasa di belakangnya; Jawa Pos dan seabrek koran di daerah dengan jaringan kelompok Radar di seantero Indonesia, termasuk jaringan televisi lokal (JPMC) di banyak kota yang juga dimilikinya. Tidak hanya itu, kedekatan Dahlan dengan Jacop Oetama (dengan Kompas dan KompasTV-nya) atau dengan Goenawan Mohammad (dengan majalah Tempo-nya), perlu pula diperhitungkan.

Pendek kata, selain dukungan riil dari massa yang sudah ada, masing-masing pasangan kandidat punya amunisi ampuh untuk memengaruhi sudut pandang calon pemilih. Bagi saya, di abad informasi sekarang ini, di antara banyak media yang ada, di antara belum terlalu tingginya kebiasaan membaca di masyarakat kita, televisi masihlah senjata yang sangat bisa diandalkan.

Bagaimana pendapat Anda? *****

Televisi sebagai Kendaraan Politik

SEBAGAI media pandang-dengar, televisi sungguh mempunyai kekuatan besar dalam hal memengaruhi. Apa pun itu. Ambil contoh, saat dulu Latifi menayang Smack Down, tontonan itu sanggup ‘menginspirasi’ anak-anak untuk meniru adegan banting-bantingan brutal itu. Torehan akibat dari itu sungguh mengerikan; patah tulang sampai nyawa melayang (?).

Kekuatan besar dari kotak ajaib (yang makin hari makin tidak bisa disebut kotak saja, karena makin tipis bentuknya) bernama televisi itu oleh banyak orang secara sadar dijadikan ‘senjata’. Dari yang secara terang-terangan, sampai kepada bentuk yang lebih halus. Tak perlu sampai puyeng untuk menyebut satu-dua contoh dari bejibunnya kenyataan orang-orang yang menggunakan televisi sebagai ‘kendaraan’. Tidak melulu untuk memperkaya diri meraup duit iklan (menjual tontonan yang jauh dari tuntunan). Mencerdaskan pemirsa menjadi tak terlalu penting dibanding rating. Termasuk juga (yang secara vulgar dapat dilihat) adalah dimanfaatkannya perangkat ini sebagai ‘kendaraan politik’.

Hanya orang yang aneh yang menganggap MetroTV itu tidak NasDem banget, atau tvOne/antv tidak pro Golkar/ARB. Pasti dengan gampang dilihat MNC grup itu condong ke Hanura atau JTV grup yang pokoknya Dahlan. Dalam kampanye kemarin, di salah satu berita MetroTV, memang semua partai diberitakan, tetapi tetap secara porsi yang durasinya lebih lama adalah kampanye partai NasDem + orasi politik Surya Paloh sebagai Ketua Umum-nya. Begitu juga dengan tvOne yang menganakemaskan berita kampanye ARB/Golkar ketimbang yang lain. Begitu juga dengan RCTI dkk yang sungguh sering menyuguhkan duet bos mereka (baca: HT) dengan Wiranto ketimbang tokoh lain. Bagimana dengan Dahlan? Setali tiga uang. Jauh sebelum musim kampanye berlangsung. saat ia sering tampil sepanggung dengan SBY yang Ketum Demokrat di ajang kampanye belakngan ini, lelaki yang film tentang kisah hidup masa kecilnya akan serentak tayang di bioskop sehari setelah Pemilu Legislatif ini, punya program istimewa di jaringan televisi Jtv; Manufacturing Hope. Sebuah judul acara yang sebangun dengan kolomnya setiap Senin yang muncul di halaman depan pada jaringan media cetak JPNN miliknya.

Ketika kebijakan Presiden (yang kebetulan adalah juga Ketum Demokrat) dinilai salah lalu menjadi sorotan tajam dan bulan-bulanan media (utamanaya televisi), beberapa orang dari partai Demokrat sempat curhat; “Beginilah kalau kita tidak punya (stasiun) televisi…”

Nah, secara frekuensi, sistem analog memang telah habis terpakai. Sekarang, ketika sistem digital mampu menampung lebih banyak lagi, peluang untuk hadirnya televisi baru masih terbuka. Apakah itu nantinya akan juga dimafaatkan oleh politisi dari partai tertentu untuk tujuan yang tentu juga berbau politis, ditunggu saja. Masalahnya adalah, apakah frekuensi yang sering didengungkan sebagai sesuatu mlik publik yang sifatnya terbatas dan harus dimanfaakan untuk kepentingan publik itu boleh secara begitu saja dipakai sebagai kendaraan politik?

Dalam sebuah wawancara khusus dengan KompasTV di program Aiman Dan…, Surya Paloh mempunyai jawaban cerdas. Saat Aiman Witjaksono bertanya tentang adanya tudingan yang mengatakan telah dimanfaatkannya MetroTV untuk kepentingan NasDem padahal frekuensi yang dimilikinya adalah milik publik, kurang lebih politisi brewok ini menjawab begini; “Iya, memang, Frekuensi memang milik publik. Dan saya juga bagian dari publik itu…”

Begitulah. Bukan politisi namanya kalau tidak piawai bersilat lidah. *****

MetroTV Bersiaran Lagi

SAYA pernah menghitung odometer pada motor saya, dan mendapati jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja (entah itu lewat Jagir atau menusuk via Margorejo) relatif sama; limabelas kilometer. Jarak segitu itu, waktu tempuh pun tidak selalu sama, tergantung harinya, tergantung kepadatan lalu lintas di sepanjang jalur yang saya lalui. Tetapi, tidak pernah kurang dari 30 menit (pada hari Minggu atau libur), namun pernah pula hampir dua jam saat lalin padat-dat-dat, cenderung macet-cet

Tetapi, jalur laju sinyal televisi tentu tak meliuk-liuk mengikuti jalanan. Ia lurus. Dan itu, kalau dihitung, jarak dari semua pemancar televisi di barat tempat kerja saya ini sampai ke TKP rumah saya tentu tak lebih dari 10 km saja. Malah bisa kurang, mungkin.

Dengan jarak pemancar segitu itu, semua televisi yang mengudara dari (di) Surabaya ini relatif bisa tertangkap dengan baik dan benar. Walau kalau dirinci, tentu saja ada yang sangat bening, sedang-sedang saja atau ada pula yang kurang cling. Pada deretan yang bisa ditangkap dengan bening sekali adalah RCTI, MNCTV, SBO, GlobalTV, SCTV, tvOne, antv, Trans|7, TransTV, KompasTV. Pada jajaran yang saya nilai sedang-sedang saja ada TVRI, TV9, ArekTV, Jtv, Indosiar, BBSTV, MHTV, . Dan kelompok yang gambarnya cenderung kepyur ada SurabayaTV dan NET.

Untuk SurabayaTV dari dulu, seingat saya, gambar tidak bisa ditangkap jelas di pesawat televisi saya. Entah mengapa. Tetapi, sebelum kepyur seperti belakangan ini, dulu (sejak masih SpaceToon) NET itu gambarnya bening sekali. Dugaan saya, NET sedang melakukan perbaikan pemancar. Prakiraan ini saya sampaikan berdasar pada adanya pengerjaan tower di atas gedung apartement Java Paragon di seberang hotel Shangri-La, tidak jauh dari lokasi studio dan pemancar TVRI. (Betulkah demikian? Yang punya info valid, silakan menambahkan)

Yang saya sampaikan diatas adalah untuk siaran analog. Bagaimana dengan siaran digital?

Perkembangan yang saya dapati pagi tadi adalah, bersiarannya lagi MetroTV. Masih tetap seperti sebelum ‘istirahat’ dulu, pada MUX-nya (506MHz/Ch.25) stasiun televisi milik politikus partai NasDem ini tetap bersama BBSTV dan sepuluh slot lagi yang masih kosong.

Tidak seperti SCTV Network dkk yang power siarannya masih belum full (sinyal mentok pada 56%, tetapi gambar dan suara megap-megap) atau MNC grup yang sinyalnya tertangkap di rumah saya timbul-tenggelam tidak bisa di-lock, kekuatan MUX MetroTV ini langsung full tank; 100%.

Dengan telah mengudaranya lagi siaran digital MetroTV ini, di Surabaya ini sinyal televisi digital terrestrial yang telah bisa dinikmati adalah; antv, tvOne (490MHz/Ch.23), MetroTV, BBSTV + 10 slot kosong menunggu penyewa (506MHz/Ch.25),  TransTV, Trans|7, KompasTV (522MHz/Ch.27), SCTV Network, Indosiar Network, O Channel Network, Live Feed + Elshinta Radio (538MHz/Ch.29), TVRI_3, TVRI_NAS, TVRI_Surabaya, TVRI HD (586MHz/Ch.35), sementara MUX MNC Grup di 634MHz/Ch.41 sinyal masih ‘mendrip-mendrip’ belum bisa dikunci.

Bagaimana dengan penangkapan sinyal televisi digital di rumah Anda? *****

Alamak, Siaran Langsung Sepakbola Diacak?

KEMARIN siang, di saat jam istirahat, untuk kedua kalinya saya menjajal mencari sinyal siaran televisi digital terrestrial di tempat kerja. Saya melakukan itu karena, walau saya sering scan dari rumah, tentu berbeda dengan ketika melakukan hal yang sama di tempat kerja ini. Pertama, karena jarak tempat kerja saya ini yang tak terlalu jauh dari lokasi antena pemancar nyaris semua stasiun televisi yang mengudara di Surabaya. Gambarannya, ketika berdiri di balkon sisi barat, tower-tower pemancar televisi menjulang dalam jarak pandang yang terbilang dekat. Paling jauh mungkin hanya milik Indosiar di Manukan atau Trans|7 di Lontar sana. Itu pun kalau ditarik garis lurus tak mungkin lebih dari 5 kilometer saja. Sementara, Metro, tvOne, TransTV, RCTI, antv terlihat dekat sekali. Di sisi timur, dengan jarak yang kurang lebih sama dengan Trans|7, tampak dua menara milik TVRI di jalan Mayjen Sungkono. Ke utara, mungkin hanya 2 kilometer saja, terdapat pemancar milik SCTV.

Itu alasan pertama. Nah, yang kedua, di tempat kerja ini saya bisa melakukan scan dari ketingian berlipat ganda dibanding saat melakukan di rumah. Kemarin itu, setelah melakaukan dari lantai satu di sisi timur (hanya mendapatkan sinyal milik TVRI Ch.35/586MHz) sama sekali tak mendapatkan dari SCTV dkk. Saya jadi ingat kala dulu pernah menelepon ke kantor pemancar SCTV dan mendapatkan jawaban untuk siaran digital lokasi pemancar memakai milik Indosiar.

Lalu saya naik ke lantai 21 sisi barat, dengan harapan bisa mengendus sinyal dari frekuensi 538MHz/Ch. 29 yang dihuni televisi grup Emtek. Dan benarlah adanya. Dengan memakai ‘senjata’ set top box yang saya jodohkan dengan televisi portable merek GMC dan antena kecil bawaan GMC saya melakukan scan. Sinyal dari tvOne dan antv tertangkap paling kencang. Sementara, setelah gagal pada pencarian pertama (dengan auto scan) saya tembak memakai jurus manual; dan dapat. Suara dan gambar O Channel, Indosiar dan SCTV muncul (padahal kalau dari rumah saya di Rungkut hal itu tidak terjadi). Sementara, Live Feed dan Elshinta Radio tetap pada kondisi scramble channel.

Yang saya kurang mengerti, kenapa sinyal dari 522MHz/Ch. 27 milik TransCorp tidak ke-detect ya. Apakah sinyal itu membentur dinding apartement Puncak Bukit Golf yang persis berada di sisi barat tempat kerja saya ini?

Pendek kata, seperti dulu pernah saya singgung, untuk penghuni apartement di tempat kerja saya ini yang tinggal di sisi barat dan selatan, saat piala dunia nanti tak perlu repot membeli reciever K-Vision untuk bisa menyaksikan laga-laga yang ada. Cukup berbekal set top box DVB-T2 plus antena indoor sudah bisa menyaksikan tvOne dan antv. Eits, tunggu dulu. Apakah siaran langsung piala dunia itu nanti tidak diacak? Bukankah dulu saat antv menyiarkan Piala Dunia U-17 sempat diacak? Harapannya, tentu saja, semoga janganlah.

Contoh dari siaran langsung sepak bola pada siaran digital terrestrial yang tidak diacak kita bisa saksikan di KompasTV yang menayang Bundes Liga. Sementara, tadi malam, saat SCTV menyiarkan tayangan langsung Liga Inggris antara Liverpool vs Tottenham Hotspur, apesnya di layar muncul tulisan Siaran Acak. Alamak… *****