Countdown Ramadhan di TV9

KARENA tulisan ini saya buat tanggal 2 Mei 2014, maka di layar B Channel pada kiri atas sudah bukan lagi berbentuk angka seperti kemarin-kemarin. Tetapi “Besok”, sebagai ganti dari hitung mundur berubahnya B Channel menjadi RajawaliTV alias RTV. Patut ditunggu, apakah bergantinya B Channel menjadi RTV tetap menjadikan stasiun televisi itu berbeda dengan yang lain, atau malah latah meniru yang sudah ada. Kalau demikian kenyataannya, sungguh lebih baik tetap menjadi B Cahnnel yang punya identitas walau sungguh secara profit tidaklah sebesar televisi lain yang menjual acara-acara yang pokoknya laku.

Hitung mundur adalah hal lumrah bagi stasiun televisi untuk sebuah moment. MetroTV di kanan atas layarnya memasang Indonesia Memilih/Memilih Presiden Baru, sementara tvOne meletakkan hal serupa di kiri atas dengan tulisan Presiden Pilihan Rakyat. Bedanya, di tvOne, karena sebagai televisi yang menyiarkan Piala Dunia bersama antv, tampilan hitung mundur itu diselang-seling dengan hari H kick off Piala Dunia Brasil.

RCTI lain lagi, walau ulang tahunnya baru digelar 24 Agustus nanti, di belakang stationID-nya sudah lama muncul angka 25 sebagai penanda umurnya.

TV9 pun tak mau ketinggalan. Sudah beberapa hari ini saya dapati ada hitung mundur di layar kiri atas. Bunyinya; …. hari menuju Mutiara Ramadhan. (tahun lalu tulisannya: Menuju Ramadhan S4ntun, –angka 4 pengganti huruf A sebagai penanda kala itu TV9 menyambut usia 4 tahun).

Sepintas tak ada hal aneh dari countdown-nya TV9 itu. Tetapi, kalau ditilik dari sisi NU sebagai pemilik stasiun televisi yang hari-hari ini sedang uji coba siaran via satelit Telkom-1 (freq. 3552, symbol rate 3100, polarisasi horizontal) ini, hitung mundur menuju bulan ramadhan itu patut dipertanyakan. Karena, berbeda dengan Muhammadiyah yang memakai metode hisab, NU cenderung kepada rukyat. Jadi, kepastian datangnya bulan suci sering disepakati pada detik-detik terakhir dan bukan jauh-jauh hari begini.

Atau, Mutiara Ramadhan itu hanya sebagai nama acara ya? *****

Ada (Iklan) NET di MetroTV

KALAU tidak ada acara yang ditayangkan bareng, misalnya Panasonic Award (oleh MNC grup) atau Piala Dunia oleh antv dan tvOne, belum pernah saya temui sebuah promo program acara ditayang di stasiun televisi lain, yang satu grup sekali pun.

Tetapi, beberapa hari ini, ada kemunculan promo program NET dalam iklan di MetroTV. Indikasi apakah ini? Dengan beda pemilik begitu, makin kurang bisa dipahami kenyataan itu. Muncullah beberapa kemungkinan. Pertama, sekalipun (bagi saya) kurang lazim, itu semata adalah hubungan bisnis semata. NET sebagai pemasang iklan, Metro sebagai yang menayangkannya. Itu saja, tak lebih dan tak kurang. Ya seperti iklan obat panu-lah. Kedua; akan adanya ‘koalisi’ antara Wishnutama dan Surya Paloh. Dalam bentuk apa?

Yang terbesar adalah adanya adanya jual beli antara keduanya. NET dibeli Metro atau sebaliknya. Dan kemungkin lainnya adalah bergabungnya NET dalam MUX MetroTV untuk siaran digital terrestrialnya.

Kemungkian yang mana yang sesungguhnya akan terjadi? Ya ditunggu saja. *****

Cak Lontong yang Sedang Kinclong

DIBANDING teman sekantor yang lain, lelaki berpostur tinggi besar itu termasuk yang berpenampilan paling santai. Sudah begitu, tutur katanya pun sering mengundang tawa. Saya mengenalnya sebagai Pak Hartono (saya tidak tahu nama depan dan atau nama belakangnya).

Setiap pagi, kedatangannya selalu saya tunggu. Ya, karena dulu di kantor tidak berlangganan koran, sementara Pak Hartono selalu datang membawa koran, barang itu selalu jadi rebutan. Tetapi, “Sini, sini,” katanya sambil mengambil kembali lembar-lembar koran yang sudah kami pegang per segmen. Lalu, dikumpulkanlah lagi untuk kemudian distaples, “Nah, begini supaya tidak terjadi dis-integrasi,” ujar Pak Hartono.

Salah seorang teman blogger (sebagaimana kebanyakan pembaca pada umumnya) suka yang namanya cerita ‘luar duga’. Dalam berbincang santai sebelum jam kerja dimulai, si Pak Hartono ini sering juga memakai teknik itu. Misalnya, suatu hari ia bilang, ‘jangan lihat siapa yang bicara, tetapi telaahlah apa yang dibicarakan’. Karena, “Kalau mutiara, sekali pun keluar dari mulut anjing, ya tetap…”

Mutiara,” sahut saya spontan menyambar kalimat yang digantung itu.

Tetap anjing yang mengeluarkan,” dengan intonasi yang khas, yang terlihat tidak ngawaki sama sekali, Pak Hartono mengoreksi jawaban saya.

Lama sudah saya tidak berjumpa langsung dengan Pak Hartono. Terakhir ketemu, pas melayat meninggalnya Pak Widodo dan kami mengantarkan jenazah sampai ke pemakamam Dinoyo, Surabaya. Tetapi, sekali pun begitu, saya masih bisa melihat aksi Pak Hartono di layar kaca. Mula-mula di JTV saat main bareng grup ludruk Tjap Toegoe Pahlawan. Saat itu Pak Hartono sudah tidak bekerja lagi di tempat kerja saya ini. Dari televisi lokal di Surabaya, lama-lama saya lihat ia bisa menembus televisi nasional di Jakarta. Di TVRI, di tvOne, di MetroTV di KompasTV, dan yang lagi kinclong sekarang ini adalah penampilannya di Indonesia Lawak Klub Trans|7.

Hartono?! Di ILK? Ah, gak ada tuh!
Sebentar, saya lanjutkan dulu ceritanya.

Ketika bekerja di tempat ini dulu, tidak jarang ia masuk kantor hanya bersandal. Jan santai tenan pokoknya. Kalau tidak salah, sedannya agak butut, warnanya abu-abu, yang kalau saya intip ke jok belakang, tidak jarang ada baju pentas di situ; hitam dengan renda kuning keemasan. Entah itu kostum apa. Tetapi mengingat posturnya yang tinggi begitu, kalaulah jadi Punakawan, pantesnya ia memerankan Petruk. Pada kaca belakang sedannya, tertera identitas yang menjadi nama artis-nya sekarang ini; Cak Lontong.

Di acara yang jelas terlihat sebagai parodi dari Indonesia Lowyers Club-nya tvOne itu, jelas sekali gaya pak Hartono, eh Cak Lontong ding, berbeda sekali dengan lawak yang lain. Permainan kata yang cerdas, pengungkapan hasil survei yang ngawur tapi menghibur, sungguh menjadi magnet dari ILK itu sendiri. Makanya tidak heran kalau hasil survei Cak Lontong selalu ditampilkan agak di belakang, sebagai gong dari ILK.

Setiap masa ada pahlawannya, sebagaimana setiap pahlawan ada masanya. Di dunia keartisan televisi berlaku pula hukum itu. Dulu pernah saya teliti, di jaman keemasannya Bukan Empat Mata-nya Tukul, dari sepuluh tetangga yang saya survei, tujuh diantaranya memutar Trans|7, sementara tiga lainnya numpang nonton disitu. (ih, niru Cak Lontong ya?)

Tetapi tabiat televisi selalu berulang, ketika rating sebuah acara sedang menjulang, durasi acara ditambah dengan waktu tayang yang saban hari. Sebuah kondisi yang bisa melahirkan kebosanan. Sebagus-bagusnya program Golden Ways, atau Kick Andy, atau apapun itu, bila ditayang seminggu penuh, tentu pemirsa menjadi jenuh. Hal ini yang harus disadari tim kreatif ILK. Karena, sebagaimana lawakan di layar kaca, sebuah materi atau celetukan humor yang menjadi tidak lagi lucu bila dipakai di lain hari.

Untuk Cak Lontong, selamat. Karir Anda makin kinclong. Salam lemper. *****

TVRI-HD, Haddeww….

KALAU ditanya ‘acara apakah di TVRI yang bagus menurut Anda?’ apa yang harus Anda katakan? Akan sulit menjawabnya manakala kita sudah sangat jarang menonton tayangan televisi tertua di Indonesia ini. Memang, dulu TVRI pernah berjaya dengan serial macam Losmen, Jendela Rumah Kita, ACI, atau Pondokan-nya Daniel Conk.. Di jajaran acara musik ada Selekta Pop yang dibawakan Mariana Ramelan, Aneka Ria Safari dengan Eddy Sud-nya , Kamera Ria sampai yang terakhir (buatan PH) Video Musik Indonesia dengan presenter Dian Nitami. Itu dulu. Yang semua acara di TVRI terlihat bagus karena ia masih sendiri saja. Sekarang?

Untuk acara talk show, untungnya TVRI masih punya Sugeng Sarijadi Forum setelah ditinggal Jaya Suprana Show hijrah ke KompasTV. Sama-sama acara talk show, Jaya Suprana mempunyai kekuatan tersendiri dibanding yang lain. (kalau tidak salah, acara yang dipandu bos MURI yang sekaligus pemilik Jamu Jago itu pertama kali tayang di TPI).

Kembali ke TVRI (walau tidak melulu untuk TVRI); bahwa dengan gampang bisa diketahui penyebabnya ketika sebuah stasiun televisi jarang ditonton orang. Yakni, kurang menariknya acara-acara di dalamnya. Pun bisa dikatakan, bahwa tidak semua acara yang disuka orang itu secara mutu bisa dibilang bagus. Jadi, idealnya, sebuah tayangan harus bagus secara kemasan sekaligus memberi pula added value kepada pemirsanya. Dalam hal ini, sebagai televisi plat merah, TVRI harus punya haluan yang jelas dibanding televisi swasta yang profit oriented.

Dengan begitu, TVRI harus mampu menempatkan diri secara ‘berbeda’. Tidak ikut arus tetapi harus membuat arus tersendiri yang deferensiasinya jelas.

Apakah TVRI telah ikut arus deras kapitalisme televisi yang kadang menomorsekiankan idelaisme dan gagal menyuguhkan sesuatu yang bernas? Perlu kajian mendalam tentang ini. Tetapi saya ambil contoh TVRI Programa2 Surabaya. Beberapakali saya lihat di channel 26 UHF (juga di kanal digital 35/586MHz) TVRI menayang program pengobatan alternatif. (acara serupa memang muncul di banyak stasiun televisi –lokal– dengan aneka nama, misalnya; Klinik Islami di TV9). Pertanyaannya, selayaknyakanh TVRI sebagai televisi publik menayang program itu? Jangan-jangan, nantinya, ia ikutan pula menayangkan channel Home Shoping yang menawarkan aneka barang dari peralatan olahraga sampai peralatan dapur dengan harga 99999 rupiah?

Melihat kenyataan di atas, sepertinya TVRI (Jawa Timur) miskin stok acara bermutu. Jadi, untuk apa dong siaran di kanal digital sampai 4 saluran kalau isinya semua sama. Bukankah itu hal yang mubazir. Satu lagi; kemarin seorang teman mengirimkan gambar ke wall akun Efbi saya yang mengatakan, TVRI HD itu palsu, karena ternyata ia masih SD.

o channel sbyIni sama seperti di sampul buku tertulis Best Seller walau sebenarnya buku tu tidak laku. Ya, bila memang demikian itu adalah kekurangjujuran. Kalau memang masih SD tentu tak perlu menamai salah satu channel itu sebagai TVRI_HD.

Haddewww…. *****

Televisi; Amunisi Politisi

PELAKSANAAN Pemilihan Umum yang digelar kemarin (9/4) bisa dibilang aman. Ada sih kejadian menonjol yang terjadi di Aceh pada saat menjelang. Namun, dalam pelaksanaan coblosannya sendiri relatif adem-ayem.

Di beberapa wilayah, memang akan dilaksananan coblosan ulang karena suatu hal. Termasuk juga pemungutan suara di Yahukimo yang harus dilakukan menyusul dikarenakan logistik pemilu yang terlambat sampai.

Namun begitu, perolehan suara telah bisa dibaca. Terlebih orang sudah lebih bisa menerima hasil dari quick count yang banyak dilakukan berbagai lembaga walau secara resmi penghitungan manual oleh KPU baru bisa diketahui sebulan setelah coblosan.

Dengan telah diketahuinya perolehan suaran hanya beberapa jam setelah coblosan, bagi rakyat kebanyakan, tentu hal itu bisa membuat mereka tidak lagi menerka-nerka dan bisa beraktifitas seperti biasa. Bagi para caleg pun demikian. Bagi yang lolos, silakan bersiap menata program (mudah-mudahan bukan program mencari ‘pembalasaan’ dari modal yang telah dikeluarkan), bagi yang tersingkir semoga tidak pendek pikiran sehingga terganggu secara kejiwaan.

Umum diketahui bahwa orientasi semua partai adalah kekuasaan. Maka pemenang pemilu telah mempunyai pijakan untuk langkah selanjutnya; Pemilihan Presiden. Pertanyaannya, apakah dengan menangnya PDIP membuat Jokowi yang digadang penjadi Presiden bisa menang mudah saat Pilpres nanti? Belum tentu.

Hari-hari ini banyak analisa yang menyoroti siapa lawan yang sanggup memberikan perlawanan seru terhadap mantan Walikota Solo itu, yang tentu saja (berdasar perolehan suara Pemilu kemarin) orang telah banyak tahu; Aburizal Bakrie (Golkar) dan Prabowo Subianto (Gerindra). Walau telah menyatakan sebagai pasangan yang diusung Hanura, sepertinya Win-HT harus tahu diri setelah melihat hasil quick count.

Capres sudah jelas siapa saja mereka, nah sekarang siapa pasangan cawapresnya? Inilah yang sedang ramai dibincangkan, dan inilah salah satu nilai tawar dalam koalisi yang hendak dibangun.

Hari ini Jawa Pos memuat prediksi siapa saja calon RI-2 itu di halaman depan. Pertama, yang merapat ke PDIP diperkirakan PKB, PAN dan NasDem sehingga bersama mereka terkumpul angka 42,63%. Dengan alternatif Capres Hatta Radjasa (PAN) atau Mahfud MD (PKB). Sementara yang bernaung di rindangnya partai beringin diperkirakan Hanura dan PKS dengan Wiranto (Hanura) atau Anis Matta (PKS) sebagai calon pendamping ARB. Modal dari koalisi ini 26,42%. Berikutnya, Gerindra berpeluang mengajak terbang bersama Demokrat dan PPP, dengan kemungkinan cawapresnya Dahlan Iskan (Demokrat) dan Surya Darma Ali (PPP). Angka 28,31% adalah modal yang lumayan hasil dari urunan tiga parpol ini.

Semua hal di atas itu ibarat peta (walau bukan buta) masihlah bisa berubah. Apa sih yang tidak mungkin terjadi dalam jagad politik. Tetapi taruhlah utak-atik itu dipakai, sungguh akan bisa dilihat pertarungan yang menarik. Saya tak paham poltik. Karenanya saya hanya akan melihatnya dari sisi televisi (suatu hal yang juga saya tak terlampau paham. Hehe :) )

Bila benar mereka-mereka itu yang akan bertarung di Pilpres 9 Juli nanti, peta pertelevisian juga menarik disimak. Misalnya, di belakang Capres PDIP ada MetroTV (plus Media Indonesia dan Lampung Post), sementara ARB (bila Hanura jadi ikut bergabung) sungguh besar stasiun televisi yang ‘mendukungnya’, antv, tvOne, RCTI, MNCTV, GlobalTV, SindoTV (SindoRadio, Koran Sindo). Bagaimana dengan Gerindra yang mengusung Prabowo sebagai Capres? Tidak mau kalah, bila Dahlan (sebagai kandidat kuat dari Demokrat) menjadi duetnya sebagai cawapres, selain CNTV yang dimiliki Prabowo, ada kelompok media raksasa di belakangnya; Jawa Pos dan seabrek koran di daerah dengan jaringan kelompok Radar di seantero Indonesia, termasuk jaringan televisi lokal (JPMC) di banyak kota yang juga dimilikinya. Tidak hanya itu, kedekatan Dahlan dengan Jacop Oetama (dengan Kompas dan KompasTV-nya) atau dengan Goenawan Mohammad (dengan majalah Tempo-nya), perlu pula diperhitungkan.

Pendek kata, selain dukungan riil dari massa yang sudah ada, masing-masing pasangan kandidat punya amunisi ampuh untuk memengaruhi sudut pandang calon pemilih. Bagi saya, di abad informasi sekarang ini, di antara banyak media yang ada, di antara belum terlalu tingginya kebiasaan membaca di masyarakat kita, televisi masihlah senjata yang sangat bisa diandalkan.

Bagaimana pendapat Anda? *****

Televisi sebagai Kendaraan Politik

SEBAGAI media pandang-dengar, televisi sungguh mempunyai kekuatan besar dalam hal memengaruhi. Apa pun itu. Ambil contoh, saat dulu Latifi menayang Smack Down, tontonan itu sanggup ‘menginspirasi’ anak-anak untuk meniru adegan banting-bantingan brutal itu. Torehan akibat dari itu sungguh mengerikan; patah tulang sampai nyawa melayang (?).

Kekuatan besar dari kotak ajaib (yang makin hari makin tidak bisa disebut kotak saja, karena makin tipis bentuknya) bernama televisi itu oleh banyak orang secara sadar dijadikan ‘senjata’. Dari yang secara terang-terangan, sampai kepada bentuk yang lebih halus. Tak perlu sampai puyeng untuk menyebut satu-dua contoh dari bejibunnya kenyataan orang-orang yang menggunakan televisi sebagai ‘kendaraan’. Tidak melulu untuk memperkaya diri meraup duit iklan (menjual tontonan yang jauh dari tuntunan). Mencerdaskan pemirsa menjadi tak terlalu penting dibanding rating. Termasuk juga (yang secara vulgar dapat dilihat) adalah dimanfaatkannya perangkat ini sebagai ‘kendaraan politik’.

Hanya orang yang aneh yang menganggap MetroTV itu tidak NasDem banget, atau tvOne/antv tidak pro Golkar/ARB. Pasti dengan gampang dilihat MNC grup itu condong ke Hanura atau JTV grup yang pokoknya Dahlan. Dalam kampanye kemarin, di salah satu berita MetroTV, memang semua partai diberitakan, tetapi tetap secara porsi yang durasinya lebih lama adalah kampanye partai NasDem + orasi politik Surya Paloh sebagai Ketua Umum-nya. Begitu juga dengan tvOne yang menganakemaskan berita kampanye ARB/Golkar ketimbang yang lain. Begitu juga dengan RCTI dkk yang sungguh sering menyuguhkan duet bos mereka (baca: HT) dengan Wiranto ketimbang tokoh lain. Bagimana dengan Dahlan? Setali tiga uang. Jauh sebelum musim kampanye berlangsung. saat ia sering tampil sepanggung dengan SBY yang Ketum Demokrat di ajang kampanye belakngan ini, lelaki yang film tentang kisah hidup masa kecilnya akan serentak tayang di bioskop sehari setelah Pemilu Legislatif ini, punya program istimewa di jaringan televisi Jtv; Manufacturing Hope. Sebuah judul acara yang sebangun dengan kolomnya setiap Senin yang muncul di halaman depan pada jaringan media cetak JPNN miliknya.

Ketika kebijakan Presiden (yang kebetulan adalah juga Ketum Demokrat) dinilai salah lalu menjadi sorotan tajam dan bulan-bulanan media (utamanaya televisi), beberapa orang dari partai Demokrat sempat curhat; “Beginilah kalau kita tidak punya (stasiun) televisi…”

Nah, secara frekuensi, sistem analog memang telah habis terpakai. Sekarang, ketika sistem digital mampu menampung lebih banyak lagi, peluang untuk hadirnya televisi baru masih terbuka. Apakah itu nantinya akan juga dimafaatkan oleh politisi dari partai tertentu untuk tujuan yang tentu juga berbau politis, ditunggu saja. Masalahnya adalah, apakah frekuensi yang sering didengungkan sebagai sesuatu mlik publik yang sifatnya terbatas dan harus dimanfaakan untuk kepentingan publik itu boleh secara begitu saja dipakai sebagai kendaraan politik?

Dalam sebuah wawancara khusus dengan KompasTV di program Aiman Dan…, Surya Paloh mempunyai jawaban cerdas. Saat Aiman Witjaksono bertanya tentang adanya tudingan yang mengatakan telah dimanfaatkannya MetroTV untuk kepentingan NasDem padahal frekuensi yang dimilikinya adalah milik publik, kurang lebih politisi brewok ini menjawab begini; “Iya, memang, Frekuensi memang milik publik. Dan saya juga bagian dari publik itu…”

Begitulah. Bukan politisi namanya kalau tidak piawai bersilat lidah. *****

MetroTV Bersiaran Lagi

SAYA pernah menghitung odometer pada motor saya, dan mendapati jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja (entah itu lewat Jagir atau menusuk via Margorejo) relatif sama; limabelas kilometer. Jarak segitu itu, waktu tempuh pun tidak selalu sama, tergantung harinya, tergantung kepadatan lalu lintas di sepanjang jalur yang saya lalui. Tetapi, tidak pernah kurang dari 30 menit (pada hari Minggu atau libur), namun pernah pula hampir dua jam saat lalin padat-dat-dat, cenderung macet-cet

Tetapi, jalur laju sinyal televisi tentu tak meliuk-liuk mengikuti jalanan. Ia lurus. Dan itu, kalau dihitung, jarak dari semua pemancar televisi di barat tempat kerja saya ini sampai ke TKP rumah saya tentu tak lebih dari 10 km saja. Malah bisa kurang, mungkin.

Dengan jarak pemancar segitu itu, semua televisi yang mengudara dari (di) Surabaya ini relatif bisa tertangkap dengan baik dan benar. Walau kalau dirinci, tentu saja ada yang sangat bening, sedang-sedang saja atau ada pula yang kurang cling. Pada deretan yang bisa ditangkap dengan bening sekali adalah RCTI, MNCTV, SBO, GlobalTV, SCTV, tvOne, antv, Trans|7, TransTV, KompasTV. Pada jajaran yang saya nilai sedang-sedang saja ada TVRI, TV9, ArekTV, Jtv, Indosiar, BBSTV, MHTV, . Dan kelompok yang gambarnya cenderung kepyur ada SurabayaTV dan NET.

Untuk SurabayaTV dari dulu, seingat saya, gambar tidak bisa ditangkap jelas di pesawat televisi saya. Entah mengapa. Tetapi, sebelum kepyur seperti belakangan ini, dulu (sejak masih SpaceToon) NET itu gambarnya bening sekali. Dugaan saya, NET sedang melakukan perbaikan pemancar. Prakiraan ini saya sampaikan berdasar pada adanya pengerjaan tower di atas gedung apartement Java Paragon di seberang hotel Shangri-La, tidak jauh dari lokasi studio dan pemancar TVRI. (Betulkah demikian? Yang punya info valid, silakan menambahkan)

Yang saya sampaikan diatas adalah untuk siaran analog. Bagaimana dengan siaran digital?

Perkembangan yang saya dapati pagi tadi adalah, bersiarannya lagi MetroTV. Masih tetap seperti sebelum ‘istirahat’ dulu, pada MUX-nya (506MHz/Ch.25) stasiun televisi milik politikus partai NasDem ini tetap bersama BBSTV dan sepuluh slot lagi yang masih kosong.

Tidak seperti SCTV Network dkk yang power siarannya masih belum full (sinyal mentok pada 56%, tetapi gambar dan suara megap-megap) atau MNC grup yang sinyalnya tertangkap di rumah saya timbul-tenggelam tidak bisa di-lock, kekuatan MUX MetroTV ini langsung full tank; 100%.

Dengan telah mengudaranya lagi siaran digital MetroTV ini, di Surabaya ini sinyal televisi digital terrestrial yang telah bisa dinikmati adalah; antv, tvOne (490MHz/Ch.23), MetroTV, BBSTV + 10 slot kosong menunggu penyewa (506MHz/Ch.25),  TransTV, Trans|7, KompasTV (522MHz/Ch.27), SCTV Network, Indosiar Network, O Channel Network, Live Feed + Elshinta Radio (538MHz/Ch.29), TVRI_3, TVRI_NAS, TVRI_Surabaya, TVRI HD (586MHz/Ch.35), sementara MUX MNC Grup di 634MHz/Ch.41 sinyal masih ‘mendrip-mendrip’ belum bisa dikunci.

Bagaimana dengan penangkapan sinyal televisi digital di rumah Anda? *****

Alamak, Siaran Langsung Sepakbola Diacak?

KEMARIN siang, di saat jam istirahat, untuk kedua kalinya saya menjajal mencari sinyal siaran televisi digital terrestrial di tempat kerja. Saya melakukan itu karena, walau saya sering scan dari rumah, tentu berbeda dengan ketika melakukan hal yang sama di tempat kerja ini. Pertama, karena jarak tempat kerja saya ini yang tak terlalu jauh dari lokasi antena pemancar nyaris semua stasiun televisi yang mengudara di Surabaya. Gambarannya, ketika berdiri di balkon sisi barat, tower-tower pemancar televisi menjulang dalam jarak pandang yang terbilang dekat. Paling jauh mungkin hanya milik Indosiar di Manukan atau Trans|7 di Lontar sana. Itu pun kalau ditarik garis lurus tak mungkin lebih dari 5 kilometer saja. Sementara, Metro, tvOne, TransTV, RCTI, antv terlihat dekat sekali. Di sisi timur, dengan jarak yang kurang lebih sama dengan Trans|7, tampak dua menara milik TVRI di jalan Mayjen Sungkono. Ke utara, mungkin hanya 2 kilometer saja, terdapat pemancar milik SCTV.

Itu alasan pertama. Nah, yang kedua, di tempat kerja ini saya bisa melakukan scan dari ketingian berlipat ganda dibanding saat melakukan di rumah. Kemarin itu, setelah melakaukan dari lantai satu di sisi timur (hanya mendapatkan sinyal milik TVRI Ch.35/586MHz) sama sekali tak mendapatkan dari SCTV dkk. Saya jadi ingat kala dulu pernah menelepon ke kantor pemancar SCTV dan mendapatkan jawaban untuk siaran digital lokasi pemancar memakai milik Indosiar.

Lalu saya naik ke lantai 21 sisi barat, dengan harapan bisa mengendus sinyal dari frekuensi 538MHz/Ch. 29 yang dihuni televisi grup Emtek. Dan benarlah adanya. Dengan memakai ‘senjata’ set top box yang saya jodohkan dengan televisi portable merek GMC dan antena kecil bawaan GMC saya melakukan scan. Sinyal dari tvOne dan antv tertangkap paling kencang. Sementara, setelah gagal pada pencarian pertama (dengan auto scan) saya tembak memakai jurus manual; dan dapat. Suara dan gambar O Channel, Indosiar dan SCTV muncul (padahal kalau dari rumah saya di Rungkut hal itu tidak terjadi). Sementara, Live Feed dan Elshinta Radio tetap pada kondisi scramble channel.

Yang saya kurang mengerti, kenapa sinyal dari 522MHz/Ch. 27 milik TransCorp tidak ke-detect ya. Apakah sinyal itu membentur dinding apartement Puncak Bukit Golf yang persis berada di sisi barat tempat kerja saya ini?

Pendek kata, seperti dulu pernah saya singgung, untuk penghuni apartement di tempat kerja saya ini yang tinggal di sisi barat dan selatan, saat piala dunia nanti tak perlu repot membeli reciever K-Vision untuk bisa menyaksikan laga-laga yang ada. Cukup berbekal set top box DVB-T2 plus antena indoor sudah bisa menyaksikan tvOne dan antv. Eits, tunggu dulu. Apakah siaran langsung piala dunia itu nanti tidak diacak? Bukankah dulu saat antv menyiarkan Piala Dunia U-17 sempat diacak? Harapannya, tentu saja, semoga janganlah.

Contoh dari siaran langsung sepak bola pada siaran digital terrestrial yang tidak diacak kita bisa saksikan di KompasTV yang menayang Bundes Liga. Sementara, tadi malam, saat SCTV menyiarkan tayangan langsung Liga Inggris antara Liverpool vs Tottenham Hotspur, apesnya di layar muncul tulisan Siaran Acak. Alamak… *****

Geliat Siaran TV Digital di Surabaya

SETELAH menerima SMS di saat istirahat, siang itu, dengan mata masih kriyip-kriyip, saya menyalakan televisi beserta set top box-nya. Ini sebagai pembuktian, sebenarnya. Bahwa, sesuai isi SMS teman itu, SCTV Network/Indosiar Network sudah on air (lagi) di Surabaya.

Mula-mula saya scan secara otomatis. Dan, apesnya, sinyal keduanya sama sekali tidak nyantol. Sementara, untuk lano channel sbygsung njujug ke frekuensi, saya kurang tahu MUX stasiun televisi milik grup Emtek itu bekerja di angka berapa. Tak apalah. Saya cari secara manual satu per satu saja. Panduannya saya bikin simple saja. Yakni, kalau frekuensi analog berada di angka-angka genap; mulai dari 22 sampa 62, untuk frekuensi TV digital di Surabaya ini dibikin di nomor-nomor ganjil. Ambil contoh MUX-nya antv/tvOne di channel 23, MetroTV (sementara masih turun dari udara) di Ch. 25, TransCorp Ch. 27, TVRI Ch. 35, MNC grup Ch. 41. Nah, itu yang saya jadikan acuan.

Berbekal ketelatenan secara manual itu, akhirnya saya dapatkan juga yang saya cari. Ya, SCTV dan Indosiar itu di Surabaya ini ternyata ada di Ch. 29/538 Mhz. Tidak seperti yang dikatakan di SMS teman itu, di kanal itu bukan melulu berisi SCTV dan Indosiar, tetapi ada juga Live Feed, O CHANNEL dan radio El-Shinta.

Untuk O CHANNEL, saya memang sempat baca ia sudah lama mengudara di Jakarta, tetapi apa itu Live Feed, saya sama sekali belum tahu itu channel macam apa. (please, bantu dong kasih tahu saya.). Satu lagi, kalau saya setiap hari sudah biasa mendengar Elshinta News and Talk di radio, menyimak yang tertera di layar kaca saat saya seperti dalam gambar, menjadikan saya (nantinya) bisa pula mendengarkan radio di televisi.

Dengan begitu, prediksi saya, MUX-nya MNC grup, selain siaran televisi, nantinya bukan tidak mungkin berisi pula SindoRadio. Setelah secara manual saya berhasil me-lock channel 29/538, secara iseng saya menyambangi frekuensi yang biasanya dihuni MNC. Dan, oh, sudah mulai ada sinyal lagi walau masih lemah sekali di frekuensi 634Mhz. Sehingga, ia sama sekali tidak berhasil saya kunci. Tak apalah, paling tidak, sebentar lagi sinyal televisi digital di Surabaya akan makin berwarna lagi. Lebih-lebih kalau nantinya para penyewa sudah mulai pula masuk.

Sinyal milik SCTV dkk itu memang masih belum stabil, sehingga di layar kaca selain gambar masih sangat belum sempurna, audionya juga masih belum muncul. Harapannya, kalaulah demi kesempurnaan siaran digital memang membutuhkan waktu, semoga itu tak terlalu lama lagi. *****

Coming Soon: CNN Indonesia

TURNER Broadcasting System Asia Pacific, Inc menggandeng PT Trans Media Corpora bakal meluncurkan CNN Indonesia, saluran TV berita 24 jam. Selain itu, situs CNN berbahasa Indonesia juga akan diluncurkan di Tanah Air.

Langkah ini sekaligus melahirkan saluran TV pertama CNN di kawasan Asia Tenggara dan diharapkan dapat menghadirkan berita berkualitas tinggi di Tanah Air.

“Kesepakatan dengan salah satu perusahaan media terbesar di Indonesia ini menempatkan CNN di posisi menarik guna menggapai jutaan penduduk Indonesia dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya,” ungkap Presiden CNN Worldwide Jeff Zucker dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/3/2014).

Gabungan kekuatan media global CNN dengan perspektif lokal dan sensitifitas Trans Media memungkinkan keduanya menyediakan berita dan informasi terkini. Tentu saja berbagai kabar penting akan disiarkan dalam bahasa Indonesia.

“Saya yakin kerjasama ini akan membantu masyarakat Indonesia untuk memahami dunia lebih baik dan yang lebih penting juga membantu dunia memahami Indonesia. Kerjasama dengan tujuan serupa dari dua perusahaan ini akan disajikan dengan kualitas, integritas dan transparansi,” tutur pendiri sekaligus CEO Trans Media Chairul Tanjung.

Chanel TV itu akan didampingi kehadiran situs digital seperti CNNIndonesia.com. Pada 2016, diprediksi 100 juta penduduk Indonesia telah mampu mengakses situs tersebut mengingat pentingnya membangun merek tersebut secara online.

Selain melibatkan para jurnalis yang handal untuk menghasilkan liputan yang menarik, chanel tersebut juga akan memanfaatkan bakat-bakat dari CNN International dan berbagi konten dengan mitra global. Sementara itu, Trans Media akan mengoperasikan CNN Indonesia dari Jakarta.

Hingga saat ini, baik pihak CNN maupun Trans Media belum mengumumkan tanggal peluncuran chanel tersebut.

 

(Nurseffi Dwi Wahyuni/liputan6.com)

(Lagi-lagi) Menengok Iklan Rokok

TERSIAR kabar, PT HM Sampoerna Plant Surabaya membuka ‘lowongan’ bagi karyawannya untuk mengajukan pensiun dini secara suka rela dalam jumlah yang sangat besar, dengan pesangon yang sesuai ketentuan. Dengan rata-rata buruh telah menjalani masa kerja belasan tahun, masing-masing orang rata-rata akan mengantongi uang minimal seratus juta rupiah!

Telah ada banyak karyawan yang mengajukan diri untuk itu. Mereka melakukan itu tentu dengan pertimbangannya masing-masing. Pertanyaannya adalah, apakah PT HM Sampoerna berniat mengurangi ribuan pekerja karena omset yang terus menurun? Tentu tidak. Sebagai raksasa produk tembakau yang mempunyai beberapa merek unggulan, ia masihlah produsen kelas kakap, yang dikelola oleh pemain rokok kelas dunia; Philip Morris.

Salah satu yang bisa dibaca dari fenomena ini adalah pada pertimbangan bisnis semata. Telah banyak diketahui, HM Sampoerna memiliki jaringan produksi yang luas di beberapa daerah, baik dengan menggandeng koperasi (kemudian dikenal dengan nama MPS; Mitra Produksi Sigaret) sampai membangun plant-plant baru di tempat baru, misalnya di Jember, Lumajang dsb. Simpulan dari itu adalah, perseroan ingin memangkas biaya produksi yang tinggi di Surabaya (ingat, UMK Surabaya lebih tinggi dibanding beberapa daerah), dengan mengalihkan konsentrasi produksi di daerah-daerah.

Tidak ada yang salah dengan cara itu. Juga, tidak ada kaitannya sama sekali dengan peringatan di iklan televisi yang bilang; Merokok Membunuhmu.

Saya belum pernah membaca sebuah survei tentang seberapa besar dampak peringatan ‘pembunuhan’ itu terhadap omset penjualan produk rokok. Tetapi, sepertinya, bagi perokok berat itu sama sekali tidak ngefek. Ada banyak contoh yang secara serampangan bisa dipaparkan. Misalnya, ada kakek-kakek yang berumur panjang walau sehari-hari merokok belasan batang. Atau, secara ringan ada yang mebuat guyonan, “Kambing itu gak ngrokok juga batuk…”

Baiklah, saya tidak ingin berpolemik tentang hal itu. Yang belakangan ini saya lihat, di antara sekian iklan televisi yang sudah memampang kalimat Merokok Membunuhmu, masih ada satu produk yang menggunakan model lama yang kalimatnya panjang sekali itu.

Ya, Anda betul; iklan rokok ESSE.

Kebetulan saya pernah mengantar seorang teman (walau tidak ikut masuk ke dalam) ke lokasi pabrik ESSE itu. Dari luar, bangunannya tidak mencerminkan sebuah pbarik rokok kelas dunia. Tetapi, “Di dalam besar dan luas sekali,” kata teman yang kala itu datang untuk menemui sang bos ESSE yang orang Korea.

Seperti pernah saya bilang dulu, dengan aturan yang masih terbilang longgar, Indonesia dipandang sebagai lahan basah untuk jualan rokok. Jangan heran kalau di sini bercokol raksasa asing di bisnis asap tembakau. Sebutlah misalnya; Philip Morris, BAT, juga si ESSE itu. *****

Digunakan Setahun, Kepekaan Menurun

SEJAK bulan Pebruari setahun yang lalu, saya memakai set top box untuk televisi di rumah. Itu adalah STB kedua yang saya punya, setelah yang pertama baru berkelas DVB-T. Karena STB pertama (kala itu) hanya bisa menangkap TVRI, ia saya kandangkan begitu saja. Lebih-lebih sekarang, setelah TVRI juga telah mengudara di DVB-T2, STB pertama saya itu benar-benar saya pensiunkan secara permanen.

Sekalipun set top box itu selalu tersambung ke pesawat televisi, tidak saban waktu ia saya fungsikan. Malah lebih sering DVD player yang on karena si kecil suka sekali nonton Power Rangers atau Ultraman. Untungnya TV Philips yang saya punya terdapat colokan kabel RCA-nya 3 tempat (2 di belakang, satu di samping depan), sehingga saya tidak repot-repot lepas/pasang saat ingin menyalakan DVD atau DVB secara bergantian. Tetapi karena itu televisi jadul, port untuk HDMI belumlah ada.

Saya sering scan DVB-T2 itu seperti aturan minum obat; sehari tiga kali. Itu lebih dari cukup, saya kira. Karena, makin sering scan, makin geregetan saja dibuatnya. Salah satu sebabnya adalah, channel digital di Surabaya ini gak nambah-nambah, sedang berkurang malah. Iya, MUX grup-nya MNC (634MHz/Ch.41) minggu-minggu terakhir ini sedang tidak mengudara.

Sudahlah, tentang itu saya memang harus mafhum. Namanya juga masih sedang dalam taraf uji coba, masih dalam masa sosialisasi. Tetapi dengan tidak pernah saya temui televisi yang mengudara di Surabaya ini memasang running text bahwa mereka juga telah mengudara secara digital terrestrial, saya pikir sosialisasi itu masih dilakukan setengah hati. (Baiklah, itu soal lain yang akan kita bicarakan kali lain).

Sekarang saya sedang akan membicarakan set top box saya yang tiba-tiba kurang peka dalam penerimaan sinyal. Tadinya sih saya duga semua TV sedang kompakan mengurangi power pemancar digitalnya. Tetapi, saya pikir lagi, tak mungkinlah itu terjadi. Dengan alasan apa coba? Mosok yang biasanya MUX-nya antv/TVOne itu selalu di atas 80%, kok tiba-tiba gak ke-detect sama sekali, begitu juga dengan TVRI, Metro atau juga 522MHz/ Ch.27 yang dihuni TransCorp + KompasTV yang biasanya kuat kok sekarang megap-megap.

Agar dugaan saya tidak mblarah kemana-mana, saya keluarkan dari dalam tas STB lain yang biasanya saya pakai menjajal secara mobile. Dan, taraaa... Semua normal; secara kualitas sinyal semua tegang pada bilangan di atas 90%.

Jadi, simpulannya, set top box (maaf saya tak menyebut merek) saya itu hanya bertahan satu tahun walau kalau dihitung secara ‘jam terbang’ pemakaiannya tak selama itu. Apesnya lagi, saya curiga di kota ini barang dengan merek itu tidak ada service centre-nya. Atau, apakah semua teknisi televisi bisa memulihkan kekuatan syahwat sinyal set top box saya? Kalau tidak ada, maka nasibnya akan menyusul set top box pertama saya yang sudah lama beristirahat di dalam lemari. *****

Sinyal Digital di Gedung Vertikal

SIANG kemarin, teman resepsionis menyambungkan telepon ke control room dan meminta saya menerima telepon itu.

Dari siapa?” tanya saya.

TekomVision,” jawab Tantri, teman resepsionis itu. “Diterima ya, Pak?”

Karena sedang tidak ada orang lain di Control Room, maka saya terima saja telepon itu.

Pendek cerita, perempuan di telepon itu menawarkan paket berlangganan TelkomVision. Tetapi karena tempat kerja saya ini, sebuah hunian vertikal setinggi 32 lantai di Surabaya Barat, untuk layanan siaran televisi kepada penghuni telah memakai FirstMedia, maka saya sampaikan saja tentang hal itu. Setelahnya, perempuan bersuara merdu itu memohon diri lalu menutup teleponnya.

Menyesal juga sih, kenapa saya tak pancing-pancing dia tentang layanan yang sedang ditawarkan itu. Tetapi, kasihan jugalah, kalau nanya ini-itu secara detail toh ujung-ujungnya gak ngambil juga.

Tentang layanan FirstMedia itu, pihak management sedang melakukan pembicaraan dengan pihak penyedia pay TV sistem kabel itu untuk meng-upgrade dari yang selama ini analog menjadi digital.

Selama ini, yang saya tahu, tidak terlalu banyak keluhan tentang content dari FirstMedia. Kalaulah ada, paling-paling tentang sebuah channel yang tiba-tiba kurang sempurna gambarnya. Dan itu lebih sering terjadi di lantai-lantai atas. Menurut seorang teman yang ekspert di bidang itu, hal demikian itu terjadi karena lokasi kami relatif dikelilingi tower-tower pemancar televisi yang menjulang tinggi-tinggi. Istilahnya, ada interferensi yang ‘masuk secara ilegal’ pada kabel coaxial.

Keluhan lainnya lagi adalah ketika ada siaran langsung sepak bola. Karena itu –tentu saja- tak bisa dinikmati pelanggan FirstMedia, teman-teman teknisi meng-inject siaran via antena lokal itu ke jaringan kabel FirstMedia. Karena siaran langsung sepak bola secara gilir-gumanti dilakukan beberapa stasiun televisi (misalnya, Liga Inggris di SCTV/Indosiar, atau liga lain di televisi lain), maka teman-teman teknisi mengaturnya sedemikian rupa lewat perangkat yang ada di Control Room. Hal itu, sepertinya, juga akan dilakukan saat Piala Dunia nanti.

Kalau mau (sayangnya sebagian penghuni tak mau repot) tentu bisa memasang antena indoor di unit masing-masing. Eh, nggak segampang itu ding! Begini penjelasannya; karena lokasi pemancar-pemancar itu berpencar, tentu tak semua bisa menangkap siaran secara sempurna. Misalnya, bagi yang unit apartemennya di sisi timur, siaran paling bagus yang diterima tentu adalah mlik TVRI. Karena pemancarnya ada di jalan Mayjen Sungkono di timur sana. Sementara dikarenakanan MetroTV, RCTI, Global, TransTV, Trans|7, MNCTV, Indosiar, TVOne, antv, Jtv, ArekTV, TV9 ada di sisi barat gedung, penghuni di sisi baratlah yang bisa menangkap siaran dengan aman dan nyaman.

Lalu bagaimana dengan siaran digital terrestrial? Nah, karena penasaran, satu jam yang lalu saya tenteng set top box lengkap dengan antena indoor model ‘sungut’ bawaan TV Toshiba 14” untuk melakukan uji coba.

Mula-mula saya ambil yang lokasinya sisi timur, tepatnya di lantai 6. Sesuai perkiraan, sinyal digital paling handal adalak milik TVRI yang mengudara di channel 35. Sementara, channel lain hanya MUX-nya Trans ke-detect. Itu pun kondisinya megap-megap, paling tinggi 35% lalu drop ke 0 lagi. Padahal, kalau mau dihitung secara jarak, dari lokasi saya ke tower pemancar di sekeliling paling jauh hanya 5 km. Tetapi, sekali lagi, sebagian besar pemancar ada di sisi barat. Ada sih yang agak ke timur; SCTV. Tetapi stasiun televisi milik grup Emtek ini di Surabaya belum mengudara di kanal digital.

Nah, agar berimbang, saya juga melakukan scan dari unit apartemen yang menghadap ke barat. Kali ini lokasinya agak tinggi, di lantai 21. Lagi-lagi, sesuai prediksi, sinyal paling kuat adalah milik MUX-nya TVOne/antv. Tetapi yang mengherankan, sinyal dari TransCorp itu terlihat lemah sekali. Muncul saat di-scan manual, tetapi tidak bisa disimpan. Demikian pula dengan sinyal milik MetroTV. Yang malah bikin saya heran, dan itu ada di luar perkiraan, adalah masih kuatnya sinyal digital milik TVRI, masih ada pada bilangan 85%.

Kenapa sinyal dari sisi barat tertangkap sangat tidak kuat, secara awam saya cari penyebabkan. Dan ‘kambing hitam’ yang saya duga punya andil besar menghalangi laju sinyal adalah bangunan apartemen baru tepat di sebelah barat gedung apartemen tempat kerja saya ini. Nama apartemen baru itu; Puncak Bukit Golf. (Dengan demikian, kalaulah nanti MUX-nya grup MNC mengudara lagi, saya kira sinyalnya juga akan terhalang gedung apartement milik Grup Puncak yang lagi getol membangun hunian vertikal di banyak lokasi di Surabaya ini)

Intinya, saya sudah mendapat gambaran, kalau saat piala dunia nanti penghuni yang apartemennya ada di sisi barat ingin menikmati siaran sepak bola kelas wahid di layar kaca dengan gambar dan suara digital, pakai set top box adalah pilihannya. Atau, bagi penghuni yang pesawat televisinya sudah include DVB-T2, tinggal setting saja. Satu lagi, saking kuatnya (atau dekatnya) pemancar milik antv/TVOne (490MHz/Ch.23), saat antena indoor saya cabut, sinyal masih tetap kuat dan gambar masih bisa dinikmati dengan kualitas sempurna. *****

Sialan TV Digital

SETIAP mampir ke akun sosial media-nya Kominfo tentang sosialisasi TV digital, selalu saja bisa ditemui komentar-komantar yang bernada geregetan. Sumber rasa geregetan itu adalah program TV Digital terrestrial yang digagas Kominfo seperti jalan di tempat. Mandeg, bahkan, “Kemarin MNC Grup mengudara 3 saluran (MNCTV, RCTI dan GlobalTV), kalau sekarang tinggal GlobalTV saja, itu bukan hanya jalan di tempat, tetapi kemunduran.” komentar itu, tentu merujuk pada kondisi sialan siaran digital terrestrial di Surabaya.

 Seorang teman yang sehobi dengan saya, memposting status bahwa siaran digital di Jember tidak bisa dideteksi alias tak nongol di layar kaca. Membaca itu, kemarin siang saya langsung meneleponnya, “Mosok MetroTV sudah tidak megudara digital di Jember?”.

 Pertanyaan itu saya lontarkan karena dulu (saat mudik) saya pernah menemukan MetroTV adalah satu-satunya televisi yang sudah on air digital terrestrial di kota tembakau itu.

 “Gak ada, Mas,” jawab teman itu yang siang kemarin sedang utak-atik antena. “Sampai capek saya putar-putar antena, sinyal digital tak ke-detect.

 Itulah. Dan pengalaman tadi (bisa jadi ) bukan melulu dialami teman saya itu. Tetapi pastilah ada yang –karena penasaran seperti apa sih penampakan siaran TV digital terrestrial yang gratisan itu– tingkat geregetannya berlipat. Misalnya, sudah kadung mahal-mahal beli set top box, eh pas dipasang di rumah, tak satu pun siaran digital bisa diterima. Iya sih, alat itu bisa disimpan untuk dipakai kalau nanti migrasi ke kanal digital sudah final. Tapi kapan?!

 Gagasan apa sih yang gak diributkan di negeri ini? Tak terkecuali program migrasi televisi ke kanal digital yang selalu saja ada pihak yang (maaf) menjegal. Sebagai orang bodoh, saya tak terlalu tahu apa yang melatarbelakngi pihak yang ngotot keberatan dengan akan diterapkannya sistem digitalisasi pertelevisian di negeri ini. Jangan-jagan muasal dari kengototan itu ada pada perkara untung-rugi. Dan ribut tentang itu sepertinya belum akan berhenti hari ini atau minggu depan. Jadinya, ketika negara tetangga masyakatnya sudah bisa menikmati siaran televisi kualitas tinggi, masyarakat kita masih saja bergelut dengan gambar di layar yang laiknya dikerubuti semut.

 “Sudahlah, Mas,” suara teman saya itu lagi via telepon, “lupakan apa itu siaran digital terrestrial. Menurut saya, itu bukan siaran terrestrial, tapi siaran terae sial...” sambungnya dengan tawa berderai.*****

 

* (Jawa) terae sial: memang sial.

 

 

Frekuensi Televisi (Analog dan Digital) di Surabaya

AGAR tidak terlalu berimpitan dan saling mengganggu (interferensi), frekuensi televisi di suatu wilayah jangkauan (coverage area) ditata sedemikian rupa. Ambil contoh di Surabaya ini. Untuk jalur UHF, mulai dari 22 sampai 62 telah penuh terisi, tentu saja di antara frekuensi satu dan lainnya diberi jarak yang dikosongkan. Tidak seperti frekuensi di Kediri yang berangka ganjil, frekuensi di Surabaya ini semua berada dalam nomor genap.

Berikut, secara berurutan, frekuensi televisi (analog dan digital) yang mengudara di kota pahlawan:

  1. TVRI ( …. VHF)

  2. TransTV (22 UHF / 479 MHz)
    (Di kanal digital, TransTV mengudara pada frekuensi 522 MHz / Ch. 27 Digital)

  3. ANTV (24 UHF / 495 MHz)
    (Di kanal digital , ANTV mengudara pada frekuensi 490 MHz / Ch. 23 Digital)

  4. TVRI (26 UHF / 511 MHz)
    (Di kanal digital, TVRI bersiaran 4 saluran pada frekuensi 586 MHz / Ch. 35 Digital)

  5. Indosiar ( 28 UHF / 527 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial di Surabaya)

  6. RCTI (30 UHF / 543 MHz)
    (Di kanal digital, RCTI mengudara pada frekuensi 364 MHz / Ch. 41 Digital)

  7. MNCTV (32 UHF / 559 MHz)
    (Di kanal digital, MNCTV mengudara pada frekuensi 364 MHz / Ch. 41 Digital)

  8. SCTV ( 34 UHF / 575 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial di Surabaya)

  9. SBOTV (36 UHF / 591 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial)

  10. B-CHANNEL (38 UHF / 607 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial di Surabaya)

  11. KompasTV (40 UHF / 623 MHz)
    (Di kanal digital, KompasTV mengudara pada frekuensi 522 MHz / Ch. 27 Digital)

  12. TV9 (42 UHF / 639 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial)

  13. SurabayaTV (44 UHF / 655 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial)

  14. BBSTV (46 UHF / 671 MHz)
    (Di kanal digital, BBSTV mengudara pada frekuensi 506 MHz / Ch. 25 Digital)

  15. ArekTV (48 UHF / 687 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial)

  16. GlobalTV ( 50 UHF / 703 MHz)
    (Di kanal digital, GlobalTV mengudara pada frekuensi 364 MHz / Ch. 41 Digital)

  17. TVOne ( 52 UHF / 719 MHz)
    (Di kanal digital ,TVOne mengudara pada frekuensi 490 MHz / Ch. 23 Digital)

  18. MetroTV ( 54 UHF / 735 MHz)
    (Di kanal digital, MetroTV mengudara pada frekuensi 506 MHz / Ch. 25 Digital)

  19. Trans|7 (56 UHF / 751 MHz)
    (Di kanal digital, Trans|7 mengudara pada frekuensi 522 MHz / Ch. 27 Digital)

  20. NET. ( 58 UHF / 767 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial di Surabaya)

  21. JTV ( 60 UHF / 783 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial)

  22. MHTV / SindoTV (62 UHF / 799 MHz)
    ( Belum bersiaran digital terrestrial) *****

Goyang Syur di Campur-campur

KALAU saya melirik YKS itu jarang, untuk Campur-campur malah lebih jarang lagi. Sungguh sayang membuang waktu hanya demi melihat acara macam itu. Celakanya, acara-acara tak bermutu macam itu punya tempat ‘terhormat’ di mata penikmat. Sehingga banyak orang rela begadang dari semenjak lepas Isya’ sampai jauh malam.

Bahkan, cerita seorang teman, pas YKS roadshow ke Surabaya tempo hari, ada yang rela datang di siang bolong dan tak berisngsut dari tengah lapangan, hanya agar bisa mendapat tepat persis dibibir panggung, padahal acara baru mulai jam setengah delapan malam. Hujan yang sempat mengguyur, segerombolan orang yang menggilai YKS dalam taraf yang nggilani itu tetap tak beringsut. Edan, benar-benar edan!

Lazim terjadi di dunia televisi, bila satu acara disuka, stasiun lain akan segera membuat tiruannya. Ingat saat Rahasia Illahi tayang di TPI, sinetron serupa muncul pula di televisi lainnya. Contoh terbaru tentu saja si Campur-campur yang mengekor kesuksesan si YKS. Termasuk yang dilakukan I Like This-nya SCTV. Hal yang menjadikan ke manapun channel dipindah, acara yang nongol tetap yang serupa. Parahnya, Olga, Raffi dan entah siapa lagi ‘merangkap jabatan’ baik di Pesbukers, Campur-campur maupun YKS. Tidak bosankah penonton akan hal itu? Buktinya tidak, kecuali di mata para pembenci (tapi rindu?) akan tayangan-tayangan itu.

Semalam, di saat jeda acara Mata Najwa, iseng saya menekan tombol menuju channel antv; Campur-campur sedang mengudara. Ada Desta yang berlagak menjadi pembawa acara lomba goyang. Pesertanya empat perempuan; dengan dua di antaranya adalah Duo Sabun Colek. (Huh, heran saya. Oh, tak perlulah. Bukankah istilah-istilah serupa pernah sebagai nama goyang; gergaji, ngebor, ngecor, kayang dsb. Maka saya berusaha tidak nggumun kala muncul nama biduan Sazkia Gotik yang belakangan baru saya tahu Gotik itu artinya ‘goyang itik’. Selanjutnya, saya harus mempempersiapkan diri mendengar nama goyang cacing kepanasan atau joget monyet menggelinjang…)

Kembali ke Campur-campur; saat si Desta memanggil salah seorang dari Duo Sabun Colek untuk tampil berjoged. Musik dimainkan, dan mengalunlah lagu Oplosan sebagai pengiring goyang. Nah, makin kentara saja kalau Campur-campur itu meniru karena lagu Oplosan sudah kadung identik dengan YKS. Itu soal lain, karena yang hendak saya katakan, biduan anggota Dua Sabun Colek yang bagi saya tak penting namanya siapa itu, bergoyang dengan sedemikian rupa. Walau tubuhnya berbalut baju landung (terusan panjang), modelnya amat ketat, sehingga pantatnya yang bulat terlihat dengan sangat. Goyang ke kiri-kanan dibumbui pula gerakan ke depan sungguh merupakan hal yang kurang pantas dipertontonkan. Lebih-lebih sesekali kamera mengambilnya dengan close-up. Sebagai tayangan langsung ia lolos dari sensor internal tapi tak seharusnya lolos dari teguran pihak berwenang.

Untunglah kita punya KPI, sehingga ada lembaga yang berhak menegur tayangan yang relatif syur itu. Namun bila ada yang merasa KPI seperti melakukan pembiaran akan tayangan-tayangan serupa, itu mungkin termasuk tidak untungnya. *****

Iklan Lebay Sarimi

IKLAN GoodTime ChocoChip versi naik bis memang sudah tak pernah saya temukan tayang di layar kaca. Tetapi versi lain masih tetap ada. Yang sering muncul adalah versi renang melayang. Yakni ketika seorang bocah melempar GoodTime ChocoChip untuk akan ditangkap dengan mulutnya, ia didului ulah bocah lain yang muncul dari kolam renang yang terbang dan sukses merebut lemparan itu dengan mulutnya. Selain, seperti pernah saya katakan, hal itu sungguh tak patut ditiru karena merebut hak orang lain, kalau diperhatikan, ada yang janggal dengan si terbang dari kolam renang itu. Coba perhatikan rambutnya. Dengan adegan menyembul dari kolam, sungguh rambut itu sama sekali tak menggambarkan demikian. Karena rambut si bocah tampak tetap rapi seperti disisir model mohawk.

Demikianlah memang, sebuah iklan audio visual harus dibuat semenarik mungkin, tetapi tentu saja harus tetap masuk akal. Ada beberapa iklan yang menyertakan sebaris tulisan sebagai keterangan bahwa adegan itu hanya rekayasa dan hanya diperankan oleh profesional.

Ada pula iklan yang dibuat dengan penggambaran yang tak masuk akal tetapi secara pesan ia diharapkan mengenai sasaran. Contoh tentang ini bisa ditemui pada iklan mi instan rasa baru keluaran WingsFood; Mie Sedaap Rasa Bakso.

Selain tukang bakso lengkap dengan gerobaknya yang mak gedebuk jatuh di tengah-tengah meja makan karyawan, si tukang bakso muncul pula secara ndusel dari bawah tempat tidur sepasang suami-istri dengan si istrinya yang rupanya sedang ngidam bakso. Penggambaran itu mungkin supaya lucu saja, tetapi pesan yang diusung gampang sekali diterima. Yaitu; dengan hadirnya mi instan rasa bakso, konsumen tak perlu repot-repot mencegat abang bakso kala ingin menikmati rasa dan sensasi menu itu. Ya hanya sensasinya saja, karena secara bentuk tentu saja ia tetaplah mi instan pada umumnya.

Kehadiran Mi Sedaap adalah penantang utama dari Indomie yang lebih dulu menguasai pasar. Dengan kreasi rasa yang sepertinya akan terus dilakukan, pertarungan antar produk mi instan ini tentu akan masih terus berlangsung panjang. Siapa yang menang? Ditunggu saja.

Strategi untuk memenangkan persaingan salah satu senjatanya adalah lewat iklan. Begitu juga yang dilakukan Sarimi sebagai merek mi instan kawakan. Sayangnya, penggambaran pada versi tukang ojek saya lihat ada adegan yang tidak masuk di akal. Yakni ketika ban motor milik tukang ojek itu bocor. Pada jalan menanjak, dengan penumpang tetap nangkring di sadel belakang, si tukang ojek mendorong motornya dari belakang. Bagaimana logikanya? Lhawong motor itu roda 2 kok didorong seperti mobil? *****

Pesawat TV Include DVB-T2

BANYAK orang mengira kalau pesawat televisiya sudah LCD atau LED pasti sudah bisa menangkap siaran digital. Padahal kenyataannya tidak demikian. Ada memang yang sudah digital, tetapi itu hanya berjenis DVB-T1. Sehingga, ia cuma bisa menangkap siaran digitalnya TVRI. Itu dulu. Sekarang, dengan TVRI meng-upgrade perangkatnya ke DVB-T2, praktis pesawat televisi yang masih DVB-T1 (atau set top box lama yang sekelas itu) tidak bisa sama sekali menerima siaran digital.

Nah, dengan demikian, sebelum membeli pesawat televisi, perlu ditanyakan apakah barang yang hendak kita beli sudah support DVB-T2. Ini penting, agar jangan sudah mahal-mahal beli pesawat televisi, untuk bisa menangkap siaran digital kita mesti keluar uang lagi untuk membeli set top box DVB-T2.

Di bawah ini, ada beberapa type pesawat televisi dari tiga merek ternama yang sudah bisa menerima sinyal digital T2. Saya pernah mendengar kalau Samsung sudah pula mengeluarkan yang DVB-T2, tetapi di data yang saya copas dari sebuah komentar di akun socmed-nya TVDigital Kominfo ini, hanya produk dari Panasonic, Philips dan Sony.

Panasonic
– VIERA TH-P65VT60G 65″
– VIERA TH-P60ST60G 60″
– VIERA TH-L50E6G 50″
– VIERA TH-L42E6G 42″
– VIERA TH-L50ET60G 50″
– VIERA TH-L42ET60G 42″
– VIERA TH-L50DT60G 50″

Philips
– 46PFL8008S/12 46″
– 55PFL8008S/12 55″

SONY
– KDL-32W654A 32″
– KDL-32W674A 32″
– KDL-42W674A 42″ *****

Agenda Penyiaran 2014: Stop Penyalahgunaan Frekuensi Publik!

Edi Winarno:

Penambah wawasan tentang penyiaran.

Originally posted on BINCANG MEDIA:

whitespace_broadband-1

Iwan Awaluddin Yusuf[1]

Kemerdekaan pers menjadi tidak berarti jika media hanya dimiliki segelintir orang, lebih-lebih untuk media penyiaran yang menggunakan public domain berupa frekuensi milik publik yang sangat terbatas keberadaanya. Di sisi lain, kehidupan media yang demokratis senantiasa mempersyaratkan adanya keberagaman isi (diversity of content) dan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership). Ironisnya banyak persoalan yang melingkupi media penyiaran di Indonesia saat ini yang menjauhkan dari keberpihakan terhadap publik. Setidaknya terdapat lima isu besar yang menonjol di tahun 2013 – 2014.

Pertama, monopoli dan pemusatan kepemilikan media semakin kuat. Sistem penyiaran Indonesia mengarah ke sistem sentralistik karena kepemilikan lembaga penyiaran swasta masih terpusat oleh beberapa individu dan kelompok saja.

Kedua, frekuensi milik lokal didominasi televisi “nasional berjaringan”. Televisi lokal seharusnya didirikan oleh dan untuk publik lokal, bukan “boneka” dari televisi “nasional berjaringan”.

Ketiga, politik redaksional bias pemilik. Media televisi dimanfaatkan secara masif untuk kepentingan pribadi pemilik atau…

View original 304 more words

TVRI Pusing

KALAULAH ada yang iseng bertanya kepada saya tentang logo televisi apakah yang menurut saya paling oke di jagad raya ini, tentu tanpa ragu saya akan menjawab: CNN. Sedang untuk channel yang mengudara dari jazirah Arab, logo yang ajib versi saya adalah milik stasiun yang bermarkas di Dhoha, Qatar: Aljazeera. Ini masalah selera, dan tak masalah Anda tidak sependapat dengan saya.

Sementara NHK (Jepang), DW (Jerman), CCTV (China) atau Arirang (Korea) itu sebagian dari nama stasiun televisi yang memiliki logo biasa-biasa saja. Bagaimana dengan CNBC? Ah, itu lumayanlah.

Baiklah, tak usah jauh-jauh menilai lgo-logo televisi asing, di Indonesia saja, yang sekarang jumlah stasiun televisinya bejibun, sebejibun itu pulalah model dan bentuk logonya. Lalu mana yang terbaik?

Walau saya jarang sekali menengok acaranya, RCTI menurut saya logonya terbilang oke. MetroTV juga. BeritaSatu? Ya, bolehlah. Termasuk yang lumayan ada antv, tvOne juga NET. Sementara, sekali pun RCTI paling oke, adaik-adiknya cuma dapat nilai ‘biasa banget’. Itu tuh, GlobalTV, MNCTV atau juga SindoTV.

Pada jajaran TV lokal, logo JTV sekarang lebih bagus daripada yang dulu. Dengan latar belakang peta propinsi Jawa Timur, ia menandakan sebagai televisi berkelas regional. Yang juga terbilang bagus adalah BaliTV, yang dengan melihat tampilan logonya saja, ia sudah menampakkan aura pulau dewata. Sayangnya, grup BaliTV yang mengudara di Surabaya, SurabayaTV logonya jelek sekali. Hanya tulisan SurabayaTV berhias gambar merah-putih. Ini mengingatkan saya akan logo awal TPI (cikal bakal MNCTV) yang kaku sekali.

Bagaimana dengan TVRI?
Ya, stasiun televisi tertua di negeri ini memang pernah beberapa kali ganti logo. Dari yang kotak dengan hiasan pelangi, lalu tulisan TVRI dibingkai kotak bersegilima (tahulah kita apa arti lima sudut itu) sampai yang sekarang kita lihat; TVRI tanpa garis tepi tetapi dengan sinar merah –entah apa artinya– yang melingkar di bagian atasnya.

Secara sembarangan saya tafsirkan, logo TVRI tanpa garis tepi itu sebagai penanda ia bebas tak terikat satu kelompok atau golongan. Ya, sebagai lembaga penyiaran publik kepentingannya hanya satu, demi publik di republik ini. Kalaulah tagline-nya berubah dari ‘menjalin persatuan dan kesatuan’ menjadi ‘saluran pemersatu bangsa’ menurut saya itu tak jauh-jauh banget maknanya.

Lalu bagaimana dengan sinar merah di bagian atas tulisan TVRI?
Sebelum menjawabnya, saya kok jadi ingat film kartun yang sering menggambarkan, misalnya, kalau Tom sedang dipukul Jerry di bagian kepala, atau Spongbob ketiban benda yang dijatuhkan si gendut Patrick, di atas kepala mereka digambarkan ada bintang yang berputar-putar. Hal itu tentu demi menggambarkan betapa kepala mereka pusing dan sakit.

Jadi, sinar melingkar di atas TVRI itu menandakan TVRI sedang pusing? Secara serius tentu maknanya tidak begitu. Tetapi mengaitkan dengan TVRI yang napasnya kini  sedang kembang-kempis karena anggaran makin menipis, sepertinya guyonan kita di atas itu tak begitu saja bisa ditepis.

Sekarang, (terlepas dari penilaian saya  yang subjektif dan ngawur semata itu) kalau menurut Anda, logo televisi manakah yang terbilang bagus? *****